Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri tate-no-yuusha-no-nariagari-web-novel-bahasa-indonesia-chapter-20. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri tate-no-yuusha-no-nariagari-web-novel-bahasa-indonesia-chapter-20. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Desember 2018

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 16. Persiapan Untuk Gelombang

View Article
Chapter 16. Persiapan Untuk Gelombang


[Perisai Tali telah terbuka]
[Perisai Pikyu Pikyu telah terbuka]
[Perisai Kayu telah terbuka]
[Perisai batu telah terbuka]
[Perisai Kupu-kupu telah terbuka]
[Perisai pipa telah terbuka]
[Dan Lainnya]

[Perisai Tali]
[Bonus Pemakaian : Skill - [Air Strike Shield] <Belum dikuasai>]

[Perisai Pikyu Pikyu]
[Bonus Pemakaian : Teknik memperbaiki senjata tingkat pemula 1 <Belum dikuasai>]

[Perisai Kayu]
[Bonus Pemakaian : Teknik Memproses Kayu 1 <Belum dikuasai>]

[Perisai Kupu-kupu]
[Bonus Pemakaian : Ketahanan Kelumpuhan (Rendah) <Belum dikuasai>]

[Perisai Pipa]
[Bonus Pemakaian : Skill - [Shield Prison] <Belum dikuasai>]

Dan lainnya


8 Hari telah berlalu.
Setelah berpisah dengan pak tua, kita melakukan perjalanan ke desa baru.
Desa itu bernama Riyuuto. Sepertinya tempat itu merupakan tempat singgah yang bagus untuk para petualang. Namun karena hanya ada satu penginapan, biaya penginapan untuk satu malam adalah 1 silver.
Pedagang keliling mendatangi desa ini hanya sekali dalam 2 hari.
Karena tidak ada apotek, aku menjual obat murah milikku langsung ke penduduk desa dengan tujuan untuk bersaing dengan obat yang diimport dari kota.
Untuk mengimbangi harganya, obat yang aku jual merupakan obat berkualitas rendah.
Ngomong-ngomong, kabar buruk ku sudah menyebar hingga kesini. Ketika aku pertama kali datang, aku harus menghajar mereka dengan teknik ‘mengeluarkan balon’ ku yang tidak terkenal.
Dan itulah intinya.
Berkat monster yang berada disekitar kota, obat-obatan, dan kayu. Aku dapat menyerap itu semua dan membuka banyak perisai baru. Aku juga mempelajari banyak skill dan teknik.
Ada beberapa status yang bertambah juga, tapi aku tidak akan membahasnya karena itu akan merepotkan.

“Tunggu--”

Raphtalia mulai mengejar monster mirip landak yang telah menyadari ketidak-untungannya, dan melarikan diri dari pertarungan.
Level Raphtalia telah naik sangat banyak. Sekarang aku berada pada Lv 20 sedangkan dia berada pada Lv 25.
Pertumbuhannya sangatlah cepat.
… Ngomong-ngomong, aku masih bertarung dengan bajuku yang biasa.
Dan karena aku belum pernah menerima damage, semua monster sepertinya lemah dan tidak memiliki serangan yang kuat. Hingga sekarang, hal ini menjadi hal yang membingungkan ketika aku memikirkannya.
Belum lagi pengalaman buruk yang aku alami.
Karena menganggap remeh serangan musuh, aku melakukan pertarungan menggunakan perisai lemah, dan ketika aku terkena serangan rasanya sangat sakit sekali.
Hebatnya, aku menerima luka kecil dari serangan landak itu.

“Ouch, itu sedikit sakit. sudah lama sekali ketika terakhir kali aku merasakan ini.”

Dengan segera aku mengoleskan luka itu dengan ‘pil penyembuh’ untuk menghentikan pendarahan.
Duri itu sangat menyengat ketika aku mendapatkan serangan itu.
Aku sudah lupa dengan sensasi itu sejak aku datang ke dunia ini dan menerima perlindungan dari perisai.

“Sudah kubilang, sakit kan? Naofumi-sama menyerahlah dan belilah perlengkapan.”
“Tidak… itu tadi karena aku menggunakan perisai yang lemah.”

Sejak kapan Raphtalia memanggilku Naofumi-sama dari pada Goshujin-sama?
Yah terserah, itu bukanlah masalah, dan itu terdengar bagus.

Bagaimanapun, perisaiku dapat menutupi seluruh tubuhku. Jadi akan terasa aneh jika aku menggunakan perlengkapan untuk melindungi satu per satu bagian tubuhku.
Untuk jaga jaga, aku selalu bertahan dengan bagian terkuat dari perisaiku, dan aku belum pernah menerima damage hingga sekarang.
Jadi ini adalah pengalaman pertamaku menerima damage. Itu semua ada untuk hal ini.
Aku memperhatikan perisai batu asahan yang sedang melakukan ‘otomatis mengasah’. Ini adalah perisai yang sangat memudahkan, salah satu dari yang sering aku gunakan.
Lama mengasah adalah 8 jam. Jika aku mengambil senjata itu sebelum waktu habis, maka tidak akan efeknya. Satu-satunya kekurangannya adalah, SP-ku tidak pulih saat menggunakannya, karena SP-ku selalu berkurang secara konstan.
Ah, berbicara tentang skill, sepertinya aku harus mencoba untuk memanfaatkan kemampuan perisai lainnya.

“Air Strike Shield”

Ini adalah skill pertama yang aku pelajari. Ini mengeluarkan perisai dalam jangkauan sekitar 5 meter.
Tapi ini tidak akan ada gunanya jika aku sendirian.
Ini terasa bahwa semuanya telah diatur agar memiliki peran khusus.
Aku memfokuskan pikiranku, membayangkan lokasi yang aku inginkan untuk mengeluarkan Air Strike Shield; pelindung misterius yang akan lenyap ketika durasinya habis.
Baiklah, sedikit lagi.
Landak itu tersandung dan jatuh karena terkejut dengan kemunculan perisaiku yang tiba-tiba.
Namun, dia segera bangkit dan lanjut melarikan diri.
Kuh… dan aku kira 5 meter adalah jarak yang cukup untuk menangkapnya; dia dalam hal kabur sangatlah cepat.
Sepertinya aku perlu menggunakan ini.

“Shield Prison!”

Skill yang membuatku bisa memunculkan kurungan dimana saja dalam jarak 6 meter.
Kali ini aku akan meletakannya langsung ke target yaitu landak itu.
Walaupun skill ini awalnya berguna untuk perlindungan, ini juga bisa digunakan untuk menangkap sesuatu.
Tepat sekali, ini adalah skill menyerang dan bertahan.

“Kii”

Tidak bisa lagi melarikan diri, landak itu mulai mengamuk dalam ‘Shield Prison’
Durasinya adalah 15 detik.
Dalam kurun waktu itu, Raphtalia dengan cepat mendekati Shield Prison. dan tepat ketika efeknya menghilang, dia menusuk landak itu dengan pedangnya.

“Kii?”
“Aku berhasil”

Raphtalia kembali dengan rasa senang sambil membawa landak.

“Bagus!”


[Exp 48]


Panen yang cukup menyenangkan.
Kita menghabisi seluruh monster, dengan hati-hati membedahnya, dan menyerapnya kedalam perisai sehingga perisai akan bertransformasi. Aku baru menyadarinya minggu ini, sepertinya balon, jamur, dan telur terklasifikasi sebagai ‘material’. Yah, walaupun saat itu tidak ada bedanya jika aku menyadarinya atau tidak.

Sesegera mungkin aku memotong landak dan memisahkannya menjadi bagian duri, daging, dan kulit. Ternyata cukup mudah ketika sudah mengetahui triknya.
Semua itu adalah material yang berharga dan perlu ditangani dengan hati-hati.
Aku menyerap semua sisanya ke dalam perisai.
Tulang akan masuk kedalam kategori tulang, bersama dengan tulang-tulang dari monster yang lain, Kulit akan masuk kedalam kategori kulit kemudian akan mendapatkan status tambahan melalui bonus pemakaian. Tentu saja, ada saat dimana aku tidak cukup level atau tidak memiliki bahan untuk membuka perisai.
Daging masuk ke dalam kategori masakan. Hal yang menarik bagiku, aku berpikir apa yang akan aku lakukan dengan duri ini. Karena duri ini adalah tanda landak.


[Perisai Duri Hewan telah terbuka]


Jadi ini adalah perisai yang terbuat dari duri hewan. Perisai Duri… Aku penasaran dengan efek yang akan terbuka.


[Perisai Duri Hewan]
[Bonus Pemakaian : Kekuatan Bertarung +1 <Belum Dikuasai>]
[Efek Khusus : Perisai Duri (rendah)]


Akhirnya! satu point untuk kekuatan Bertaruuuuuunnnggg!!!!

Ya, aku tahu. ini hanya bertambah 1.
Meskipun aku tidak mengerti apa yang bisa dilakukan ‘Efek Khusus : Perisai Duri (rendah)’, Yang penting, aku bisa mendapatkan kemampuan perisai untuk menyerang.
Ini adalah awal. Mulai dari sekarang aku juga akan bisa menyerang jika aku terus menyerap bahan yang berhubungan dengan kategori perisai ini.
Kemampuan bertahan sedikit lebih rendah dari yang memiliki kategori mineral, namun itu bukan masalah.

“Bagaimana?”
“Haha, sepertinya perisai ini menambah kekuatan bertarungku.”
“Jadi akhirnya kau mendapatkannya. Namun bagaimana dengan kemampuan bertahannya?”

Raphtalia menunjuk ke arah luka ku dengan tatapan curiga.

“Sepertinya, sama saja.”
“Begitu… Um, aku ingin bertanya apakah pedangku juga bisa di asah namun…”
“Baiklah, ayo kita akhiri perburuan kita kali ini dan kembali ke hutan.”
“Baik!”

Aku mengenakan ‘perisai batu asahan’ dan memasukan pedang Raphtalia kedalam salah satu lubang.
Saat ini sedang diasah.
Sekarang, level kami naik sangat banyak setelah satu minggu penuh dengan mencari uang, dan kita telah mendapatkan 230 Silver.
Sejumlah besar obat terjual, dan bisnis perkayuan dan pertambangan berada di atas angin, semua ini berkat skill perisaiku.
Ada beberapa alasan yang jelas mengenai ini, sepertinya, teknik bermain game online ku dulu, bermanfaat disini.
Yah, dulu. aku hanya memikirkan suatu metode dimana aku dapat hidup dengan layak.
Dan aku tidak menyia-nyiakan waktu untuk aksi yang tidak berguna yang tidak membuatku kuat. Jadi tidak ada cara lain selain cara ini agar bisa bertahan di sini.

“Baiklah, kita harus segera kembali dan meng-upgrade perlengkapanmu Raphtalia.”
“... Naofumi-sama?”

Huh? entah mengapa, Raphtalia tersenyum kepadaku. Namun aku merasakan perasaan yang aneh, ada hawa dingin dari pandangannya.

“Meskipun, aku sangat senang dengan membeli perlengkapan baru, namun bisakah kau memikirkan dirimu dan penampilanmu?”
“Apa aku terlihat aneh?”
“Kau terlihat seperti penduduk desa biasa tanpa perisai itu”
“Ya-… yah, itu tidak perlu… Namun sedikit perubahan dalam pakaian tidak apa kan?”

Gashi!*
Raphtalia menggenggam pundak ku dengan senyuman mengancam.

“Bukankah kau tadi terluka?”
“Seperti yang sudah aku katakan, aku sengaja menggunakan perisai yang lemah… Jadi masih tidak apa kan? Senjatamu lebih penting dari ku untuk sekarang, jadi sekarang lebih baik untuk fokus pada-- “
“Naofumi-sama? Apa kau paham jika kau terus seperti ini, kau bisa mati?”
“Mati!?”

Dengan pedang cadangan di tangannya, Raphtalia menodongkan pedangnya ke arahku.
Meskipun, aku tidak akan bisa dilukai olehnya karena segel budak.

“... Untuk saat ini, bukankah kau harus khawatir dengan perlengkapanmu sendiri? Batas waktunya sebentar lagi kan?”
“... haha”

Jika dipikir lagi, dia ada benarnya. hanya ada beberapa hari lagi sebelum gelombang muncul.
Aku perlu bertambah kuat sebelum itu.
Walaupun aku sudah merasa cemas tentang pakaian ku yang seperti penduduk biasa.
Akhir dan apa yang dimaksud benar benar berbeda.

“Haa….”

Meskipun begitu aku ingin meningkatkan kekuatan menyerangku sedikit lagi…

“Dari pada aku, ayo cepat temukan perlengkapan untuk Naofumi-sama”
“Baiklah, Kita akan membeli perlengkapan ku. namun kita akan menggunakan sebagian uangnya untuk mendapatkan senjatamu.”
“Baik”

Meskipun aku sudah terbiasa, dia semakin lama semakin susah diatur....
Tindak kekerasannya meningkat seiring dengan keras kepalanya. Aku penasaran, mengapa rasanya posisi kita telah bertukar.
Dia menjadi budak yang suka mengatur jika aku ibaratkan.




TL: LoliLover
EDITOR: Isekai-Chan

Rabu, 17 Januari 2018

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 12. Milikmu Adalah Milikku

View Article
Chapter 12. Milikmu Adalah Milikku


Saat sudah siang, aku membuka mataku dan Raphtalia berada di sana menungguku.

“Apa kita akan pergi menuju kota ? *Koho*”
“Ha ha”

Dia terbatuk lagi.
Aku memberikannya ‘obat biasa’ tanpa berkata apapun, dan Raphtalia menerimanya dengan ragu-ragu.
Setelah ini adalah waktunya mengunjungi apotek untuk melakukan beberapa bisnis.

“Fumu… kualitasnya tidaklah buruk. Tuan hero, apa kau mengetahui tentang farmakologi ?”

Karena aku sudah menjadi bukan orang asing di toko ini, aku dapat melihat sekilas proses pembuatan obat di sini.

“Tidak, kemarin adalah pertama kalinya aku membuatnya. Dibandingkan dengan menjual barang mentah, mana yang lebih menguntungkan ?”
“Itu adalah pertanyaan yang sulit. Walaupun tanaman herbal lebih murah, obat-obatan sering menyelamatkan nyawa seseorang.”

Dahi Apoteker terlihat berkerut setelah melihat Raphtalia, berdasarkan pengamatanku, aku tahu bahwa dia tidak berbohong dan telah berkata sejujurnya.

“Harga obat-obatan sekarang sedang naik karena ramalan, jadi permintaan terhadap barang ini juga sangat banyak”
“Fumu…”

Adanya resiko gagal dalam pembuatan demi harga yang tinggi, atau menjual bahan bakunya secara langsung, manakah yang akan lebih menguntungkan.
Bagaimanapun, keduanya memiliki keuntungan dan kerugian masing-masing. Tidak ada salahnya untuk mengumpulkan lebih banyak lagi.

“Hei, apakah ini berarti kau tidak akan datang lagi ?”
“... Bukankah aku tadi berkata : ‘untuk dua minggu kedepan, aku akan menjual obat-obatan ini di sekeliling kota’.”

Apoteker memahami jawabanku dan melihat ke arahku dengan tatapan yang aneh sebelum tertawa.
Kali ini dia memberikanku suatu peralatan dan mengajarkanku bagaimana cara menggunakannya.
Mengambil obat-obatanku sebagai biayanya namun dia juga membeli obat-obatanku.
Aku menerima berbagai macam alat, tidak termasuk penggerus.
Perlengkapan laboratorium seperti : alat ukur, botol, dan penyuling.
Ini akan bertahan cukup lama sebelum aku memerlukan penggantinya.

“Karena barang ini sudah sangat lama berada digundang, barang ini bisa tiba-tiba rusak.”
“Ini cukup bagus untuk pemula.”

Tentunya, dengan ini aku bisa mencoba resep baru.
sekarang aku harus menghilangkan kulit-balon ini dari kantungku.
saat sedang dalam perjalanan ke pembeli balon, ada beberapa anak yang menarik perhatianku. Sepertinya kulit-balon yang akan kami jual bisa digunakan sebagai bahan untuk membuat suatu balon yang bisa dijual-belikan. Anak-anak tersebut bermain dengan benda itu seperti bermain bola.
Raphtalia melihat dengan rasa iri.

“Hei, Apa itu ?”
“Hmm ?”

Aku menunjuk ke arah benda berbentuk bola yang sedang dimainkan oleh anak-anak tersebut.

“Oh, itu adalah salah satu benda yang bisa dibuat dari kulit-balon”
“Hmm, kalau begitu bisakah kau membuatnya lagi dengan bahan yang ingin kami jual ?”
“Ha, Yah… Baiklah jika kau menginginkannya”

Aku menyerahkan kulit-balon dan beberapa uang. Kemudian dia memberikan kami bola yang terbuat dari kulit-balon

“Ini”


Aku melempar bola itu ke arah Raphtalia.

Dengan bingung, Raphtalia bergantian melihat kearah ku dan kearah bola itu.

“Kenapa ? Kau tidak menginginkannya ?”
“M-, mhm”

Raphtalia tertawa riang, dan menggelengkan kepalanya.
Dia tertawa untuk pertama-kalinya.

“Ketika pekerjaan hari ini selesai, kau boleh bermain”
“Yay!”

Dia terlihat bersemangat. ini adalah perkembangan yang bagus.
Karena Raphtalia yang semangat lebih menguntungkan untukku.
Setelah kembali ke hutan, mengalahkan monster, dan mengumpulkan tanaman herbal seperti kemarin. Kami bisa pergi lebih dalam berkat pertahananku.
… Sepertinya akan ada desa jika kami terus melaju kedepan. Namun, aku menolak untuk menuruti saran si jalang.
Hari ini sangat menguntungkan dan kami menemukan banyak hal. Sepertinya hal ini disebabkan karena kami telah mencapai daerah kaki pegunungan.
Oh ? kami menemukan musuh baru.
Sesuatu seperti telur.
Benda ini terlihat seperti keluarga dari balon.

“Ini adalah pertamakalinya kita menghadapi monster ini. aku akan maju duluan. ketika aku memberimu sinyal, berlarilah dan bunuh dia.”
“Un!”

Jawaban bagus.
Aku menyerang monster itu, dia menyadari dan mengarahkan taringnya kearahku.
Gan!*
Sama sekali tidak ada damage. Tidak ada rasa sakit ataupun geli.
Pedang Raphtalia dengan mudah nya memotong monster itu.

“Taha!”

Semangat kami lebih tinggi dibandingkan kemarin.
Telur.
Monster yang sama muncul lagi.
dengan suara ‘Parin*’, telur itu pecah dan mengeluarkan kuning telur kemudian mati.

“B-ue, menjijikan!”

Apa cangkang itu bisa dijual? akan sia-sia jika dibiarkan.
Baunya busuk, mungkin ini tidak bisa dimakan.
Aku menyerap sebagian cangkang kedalam perisaiku.
Selanjutnya, telur itu menjadi mudah dikalahkan berkat Raphtalia yang telah terbiasa.


[Perisai telur telah terbuka]

[Perisai Telur]
[Bonus pemakaian: kuliner +1 <Belum dikuasai>]


Kemampuan baru lagi. kali ini kemampuan memasak?
Kami terus memburu monster yang sama dalam berbagai warna.


[Perisai telur biru telah terbuka]

[Perisai telur biru langit telah terbuka]

[Perisai Telur Biru]
[Bonus pemakaian: penilaian +1 <Belum dikuasai>]

[Perisai Telur Biru Langit]
[Bonus pemakaian: Resep Masakan untuk Pemula <Belum dikuasai>]


Aneh, akhir-akhir ini aku selalu mendapatkan skill baru.
Apa ini bergantung pada tipe musuh yang kami kalahkan?
Baiklah, saat ini aku hanya harus fokus mengumpulkan tanaman herbal menggunakan kemampuanku.
Siang hari terasa lebih lama saat berada diatas gunung.
Namun, aku masih kepikiran dengan perlengkapan Raphtalia.
Ini adalah hasil dari hari ini


[Aku : Level 8]
[Raphtalia : Level 7]


Sial, dia sudah hampir menyalip ku.
Hal ini terjadi karena Raphtalia lah yang selalu melakukan serangan terakhir.
Gu*...

“Perutku kosong…”

Raphtalia menatapku.

“Kau benar, mari kita cari makanan”

Kami mengakhiri perburuan kami dan kembali ke kota.
Setelah sampai, aku menjual cangkang telur yang terlihat tidak berguna.
Kami memperoleh 9 Silver untuk hari ini, termasuk dengan yang kami jual pagi ini.
Aku memahami jika kami bisa menghasilkan sesuatu dengan cangkang itu, tapi mereka membelinya dengan harga yang lumayan tinggi.
Obat-obatan dan tanaman herbal juga menghasilkan jumlah yang lumayan, membuatku berpikir apa yang harus kami makan hari ini.
Yah, melihat Raphtalia yang sudah ngiler melihat warung makanan dari tadi…
Aku tidak ingin memanjakannya, namun siapapun harus diberi hadiah untuk kerja bagus mereka kan?

“Ayo kesana, hanya untuk sekarang.”
“Eh? apa tidak apa?”
“Kau ingin makan disini kan ?”

Raphtalia mengangguk dengan cepat.
Dia menjadi lebih jujur.

“*Keho*...”

Dia batuk sekali lagi.
Aku menyerahkan ‘obat tingkat menengah’ kepadanya, kemudian memesan makanan yang terlihat seperti mash potato yang dikeraskan pada tusuk sate yang berada di-etalase mereka.

“Ini, hari ini kau bekerja keras”

Setelah meminum obatnya, Raphtalia dengan senang menerima sate itu dan langsung memakannya.
“Terimakasih!”
“Ti-, Tidak masalah….”

… Aku senang dia akhirnya menjadi ceria.
Aku melihat sekeliling untuk mencari penginapan yang murah sambil makan.

“Apa kau ingin bermalam disini?”
“Aaah”
Tangisan Raphtalia setiap malam sudah menjadi masalah, jadi jangan ditambah dengan serangan para balon.
Kami pergi ke dalam penginapan.
Tepat saat memasuki penginapan itu, penjaga penginapan langsung cemberut, walaupun dia langsung berganti ke mode bisnis.

“Ada kemungkinan pendampingku akan menangis di tengah malam, apa tidak apa?”

Aku memperlihatkan balon yang tergantung di balik jubahku.

“Itu-, sedikit-”
“Bisakan? kami tidak akan mengganggu tetangga.”
“Ya.”

Sekarang aku mengetahui bahwa pemerasan sangat penting dalam bisnis.
Seluruh kota ini telah membuatku menjadi bahan ejekan, raja sialan itu juga tidak tahu seberapa dampak yang dia berikan kepadaku.
Tidak, walaupun dia menyadarinya, dia pasti akan berkata sesuatu seperti ‘tidak ada jalan lain’.
Sungguh, para petinggi di dunia ini.
Aku membayar biayanya kemudian menurunkan barang kedalam ruangan yang kami sewa.
Mata Raphtalia sangat bersinar ketika melihat bola.

“Kembali-lah sebelum petang. Dan, sebisa mungkin tetap berada di dekat penginapan”
“Yaaay!”

Ya ampun, dia benar-benar memiliki sifat anak kecil.
Demi-human biasanya dijadikan sebagai objek kekerasan, namun seharusnya akan aman jika dia terlihat seperti para petualang.
Melihat keluar jendela, aku melihat Raphtalia bermain dengan bolanya. Kemudian aku mencoba mencari metode baru dalam peracikan.
Sekitar… 20 menit berlalu.
Kemudian aku mendengar teriakan anak kecil.

“Kenapa ada setengah manusia bermain di daerah kita?!”

Ada apa? aku melihat dari jendela.
Tidak peduli dilihat dari manapun, itu adalah pembulian yang ditujukan kepada Raphtalia. Ya ampun, kemanapun kita pergi, pasti selalu akan ada anak yang berperilaku seperti itu.

“Oi bocah, kau memiliki mainan yang bagus. berikan itu”
“Eh-, err, itu…”

Raphtalia mungkin mengerti bahwa demi-human diperlakukan seperti itu. Jadi perlakuan mereka tidaklah aneh di matanya.
Ha…
Aku keluar ruangan kemudian turun tangga.

“Berikan !”
“Ti-tidak”

Anak sialan itu, dia berani menentang Raphtalia karena mereka menang jumlah.

“Berhenti, anak nakal”
“Apa yang kau mau orang tua.”

Guh, orang tua?!
Yah, tahun ini aku berumur 20 tahun dan aku tidak peduli dengan standar dunia ini.
Aku tidak peduli jika aku adalah orang tua bagi mereka.

“Apa alasanmu meminta barang yang dimiliki orang lain?”
“Hah? itu bukan bolamu kan?”
“Itu milikku. Aku meminjamkannya. Jika kau mencuri darinya, itu artinya kau mencurinya dariku.”
“Sebenarnya apa yang kau mau orang tua.”

Hah…. sepertinya mereka tidak akan mengerti. Hanya karena dia anak kecil, bukan berarti aku akan memaafkannya. Semua pencuri harus dihukum.

“Ok ok, kalau begitu aku akan memberimu BOLA YANG LEBIH BESAR!!!”

Raphtalia melihatku, kemudian berteriak ke arah anak-anak itu.

“Lari!”

Bagaimanapun, mata dari anak-anak itu terlihat meremehkanku.
Aku tertawa geli sambil bersiap mengeluarkan balon.
GABU!*

“AAAAAAAAAAAAAAAAAWWWW!”

Sebuah balon menggigit mereka.

“Jadi, itu adalah bola yang asli. apa kalian menginginkannya?”
“Awww!”
“Itu bukan candaan, dasar bodoh!”
“Mati! dasar bodoh!”
“Aku akan menghajarmu, dasar sialan!”

Aku kembali kedalam penginapan selagi mereka membicarakanku.

“Er, ummm…..”

Raphtalia memegang mantel ku.

“Oi, masih ada balon yang berada disitu.”

Raphtalia segera melepaskan genggamannya, kelakuannya membuatku tersenyum.

“Terimakasih”

Apa yang dia katakan..

“Oh…”

Sambil membelai kepalanya, kami kembali ke dalam penginapan




TL: LoliLover
EDITOR: Isekai-Chan

Sabtu, 12 Januari 2019

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 18. Jam Pasir Berukiran Naga

View Article
Chapter 18. Jam Pasir Berukiran Naga


Esok harinya, kami datang ke toko senjata.

“Wah, bukankah itu adalah si bocah.”
“Bagaimana dengan pesanan kami?”
“Selesai! aku telah menyelesaikannya beberapa saat yang lalu.”

Pak tua berbicara sambil mengeluarkan armor dari belakang.
Yang keluar adalah satu set armor yang terlihat kasar, armor itu terkesan kasar.
Kulit Usapiru digunakan sebagai pelapis bagian leher, dimana bagian dadanya terlindungi dengan piringan besi.
Bagian sendi tidak disambung dengan metal, namun dengan kulit landak. Saat memasukan tanganku kedalamnya, aku dapat merasakan bahwa di antara kulit baju itu penuh dengan bulu Pikyupikyu.

“... Aku akan mengenakan ini?”

Bagaiamana ya, aku pikir ini terlihat seperti armor yang digunakan oleh ketua perampok.
Apa yang mereka pikirkan saat menyebutnya ‘Armor Barbar’? Aku akan terlihat seperti preman di tahun 90’ an jika aku menggunakannya.

“Ada apa bocah?”
“Tidak, aku hanya berpikir bahwa armor ini terlihat seperti armor milik penjahat.”
“Apa yang kau bicarakan?”

Huh?

“Apa kau mengatakan bahwa aku memang adalah penjahat?”

Aku memang memilih cara paling efisien dalam membuat uang, namin itu tidak membuat-ku menjadi penjahat kan?

“Pasti cocok dipakai Naofumi-sama!”
“Raphtalia… kau--”

Bukankah itu sama saja membuatku menjadi salah satu dari mereka?

“Intinya coba gunakan saja dulu.”
“Urg… Aku ingin menghindarinya jika bisa… namun tidak ada pilihan lain karena kita bekerja keras untuk membuat armor ini.”

Aku segera berganti setelah memasuki ruang ganti.
… Aku bahkan tidak bisa berkata lagi, ukurannya sangat lah pas dengan ukuran ku.
Ini adalah salah satu benda yang hanya bisa dibuat oleh pak tua, sang pemilik yang sudah mengenal senjata dan armor. Dia dapat mengetahui ukuran ku hanya dengan melihatnya.
Aku keluar dari ruang ganti dan menunjukan hasilnya kepada Raphtalia dan Pak tua.

“Fumu… mukamu memang tidaklah mengeluarkan kesan barbar, namun aku dapat melihat sedikit kejahatan dalam matamu.”
“Hah? apa kau mengatakan bahwa aku memiliki mata yang buruk?”
“Bocah, kau memang sangat cepat dalam menyadari sesuatu.”

Sialan, apa yang dia maksud sebenarnya?

“Naofumi-sama, itu sangat cocok untukmu dan kau terlihat KEREN!”

Raphtalia berbicara ke arahku dengan senyuman.
Aku menatap Raphtalia sambil terdiam.
Menggunakan tatapan penuh luka…

… Itu adalah niatku dari awal.

Sebenarnya dia tumbuh di lingkungan hidup seperti apa?
Ah, aku lupa, Raphtalia adalah demi-human. Mungkin karena dia memiliki pandangan seni yang beda denganku.
Aku mengkonfirmasi bahwa ketahanan armor ini lebih kuat dari Chain Mail, atau bahkan sedikit lebih tinggi.
Pak tua berkedip ke arahku. Jadi ini adalah bonus untuk kami, itu adalah pelayanan yang baik.

“Haa… Terimakasih.”

Berbicara jujur seperti ini bukanlah hobi ku, namun aku tidak dapat melakukan hal lain karena aku harus bersiap untuk gelombang yang akan datang.
Aku meyakinkan diriku dengan alasan itu.

“Sekarang, apa yang akan kita lakukan?”
“Kau mengingatkanku, suasana kota terasa lebih tegang belakangan ini.”
“Mungkin gelombangnya sebentar lagi akan datang, namun dimana dan kapan?”
“Huh? Tidak ada yang memberitahumu?”
“Tentang apa?”

Informasi yang pak tua tahu dan aku tidak… itu pasti adalah tentang suatu tindakan untuk melawan gelombang. Diam-diam aku mengutuk ‘mereka’ sambil mendengarkan pak tua berbicara.

“Kau telah melihat menara jam yang terkenal di alun-alun kan?”
“Ya, hanya sekilas. Aku biasanya ber-oprasi di pinggiran kota.”
“Jam pasir berukir naga terdapat di dalam bangunan itu. Saat pasir terakhir dari jam itu jatuh, para hero dan pengikutnya akan di teleportasi ke tempat dimana gelombang itu datang.”
“Oh…?”

Tidak salah lagi… raja sialan itu pasti telah memberi tahu berita gembira ini kepada hero lainnya dan pengikutnya.

“Jika kau tidak tahu kapan gelombang akan datang, mengapa kau tidak kesana dan melihatnya?”
“Sepertinya begitu.”

Ini akan menyulitkanku jika aku tidak tahu kapan aku akan di teleportasi.
Aku berencana singgah disana sebagai penghibur.

“Baiklah, pak tua.”
“kalau begitu, sampai jumpa.”
“sampai jumpa.”

Kami mengucapkan salam perpisahan dan pergi menuju menara.
Di daerah kota, menara jam itu adalah bangunan yang paling tinggi. Mungkin tingginya hampir setara dengan bangunan modern.
Entah mengapa, atap dari menara itu berbentuk seperti kubah gereja.
Sepertinya tidak ada biaya masuk, pintu gerbang terbuka lebar dan ada orang yang mondar-mandir.
Ada wanita dengan pakaian seperti biarawati menatapku dengan tatapan curiga. Dia sepertinya mengenali wajahku.

“Kau adalah hero perisai, bukan?”
“Haha, seperti yang kau lihat, aku ada disini karena batas waktu sudah dekat.”
“Kalau begitu, mohon ikuti saya.”

Aku dipandu menuju jam pasir yang berada di tengah gereja.
Jam pasir besar yang kira-kira berukuran 7 meter.
Lengkap dengan dekorasi dan aura suci.

… Apa ini? tulang punggungku terasa gatal, terasa seperti ada aliran listrik yang masuk.
Hanya dengan melihatnya, terasa sensasi mengalir di dalam tubuhku.
Warna dari pasirnya adalah…. merah.
Aku mengalihkan pandangaku ke arah pasir yang berjatuhan.
Aku paham apa yang akan terjadi ketika pasir terakhir telah terjatuh.
Perisaiku mengeluarkan suara “piin*” bersamaan dengan sebuah laser yang menghubungkan permata di perisaiku dengan pusat dari jam pasir itu.
Kemudian jam digital muncul di pandanganku.


[20:12]


Tidak lama angka 12 berubah menjadi 11.
Begitu, jadi jam pasir diterjemahkan menjadi sesuatu yang bisa aku pahami.
Dengan ini aku bisa bergerak dengan tepat.
Bagaimanapun… hal yang bisa aku lakukan dalam waktu 20 jam sangatlah sedikit. Hal yang perlu dilakukan adalah mendapatkan tanaman herbal sebanyak-banyaknya dan menyiapkan obat penyembuh.

“Huh? bukankah itu Naofumi?”

Suara menjijikan yang tidak aku sukai terdengar di dalam ruangan.
Berjalan bersama haremnya, Hero tombak dengan santai berjalan ke arahku.
Sungguh sial, aku sangat ingin menghajarnya. Namun mempertimbangkan waktu dan tempatnya, jadi aku mengendalikan diriku.

“Apa kau datang kesini untuk persiapan melawan gelombang?”

Dengan tatapan yang aneh, dia melihatku dari atas hingga bawah.

“Apa-apaan itu. apa kau berniat bertarung dengan perlengkapan seperti itu?”

Memang kenapa?
Menurutmu karena siapa aku menjadi seperti ini? Kau dan wanita jalang dibelakangmu.
Perlengkapan motoyasu berbeda dari yang dulu, hanya dengan sekali lihat aku dapat mengetahui levelnya.
Itu tidak terbuat dari besi, namun armor mengkilat yang terbuat dari silver. dia menggunakan pakaian tambahan yang memancarkan warna hijau, sepertinya benda itu memiliki efek tambahan. Tidak hanya itu, disana terdapat lapisan Chain Mail yang berada di antaranya. Terlihat seperti Motoyasu sangat memperhatikan pertahanannya.
Senjata legendarisnya juga tidak berada pada bentuk biasannya. Dan sangat menjengkelkan untuk mengakuinya, namun desain tombaknya sangat sederhana dan keren.

“...”

Berbicara dengan orang ini sungguh menjengkelkan.
Aku membalikan punggung ke arah motoyasu dan menghiraukannya sambil berjalan ke arah pintu masuk.

“Ada apa denganmu?, Motoyasu-sama berbicara denganmu! Buka telingamu dan perhatikan dia.”

Wanita jalang penggemar Motoyasu berbicara sambil menatapku dengan penuh penghinaan dan rasa haus darah.
Setelah itu muncul ejekan. Mereka mulai memprovokasiku dengan dengan ejekan dari lidahnya itu.
Wanita jalang ini, aku akan membunuhnya suatu saat.

“Naofumi-sama? Siapa orang-orang itu..?”

Raphtalia menyondongkan kepalanya dan menunjuk ke arah Motoyasu.

“...”

Aku mencoba berjalan menjauh, karena itu adalah keputusan yang terbaik daripada menjawabnya.
Di saat yang sama, Itsuki datang dari gerbang masuk.

“Tsk.”
“Oh, Motoyasu-san dan… Naofumi-san”

Itsuki terlihat tidak senang saat aku mendecikan lidahku ke arahnya, namun fitur ‘anak baik’-nya sebentar lagi akan aktif.

“...”

Ren juga datang dan berjalan tanpa berbicara apapun, dengan tujuan agar terlihat keren. Perlengkapannya jelas terlihat lebih kuat dari pertama kali dia memulainya.
Dan, kedua pengikutnya muncul setelahnya.
Populasi dalam menara langsung meningkat.
4+12+1
Kita, keempat hero yang dipanggil, bersama dengan 12 petualang yang mendampinginya, dan terakhir adalah Raphtalia.
Total jumlahnya adalah 17 orang, Jumlah yang mengecewakan untuk pasukan penangkal bencana.

“Haa…”
“Siapa gadis cantik ini? Dia terlihat sangat menawan.”

Motoyasu menunjuk Raphtalia dan berbicara.
Orang ini, dia mau dengan siapa saja asalkan dia perempuan?
Ternyata seorang hero juga mengincar anak kecil… Kota ini sudah tidak ada harapan.
Ditambah lagi, dia mendekati Raphtalia dengan motif kotor, memperkenalkan diri dengan lemah lembut.

“Senang bertemu dengamu, nona muda. Aku adalah salah satu dari keempat hero yang dipanggil ke dunia ini. Silahkan panggil diriku dengan namaku, Kitamura Motoyasu. Aku merasa terhormat bisa berkenalan dengamu.”
“Ah, ya… jadi kau adalah salah satu hero.”

Raphtalia mengangguk dengan perlahan sambil menghindari tatapannya.

“Bolehkah aku mengetahui namamu?”
“Umm…”

Raphtalia yang terlihat bermasalah, melihat ke arahku lalu kembali melihat ke arah Motoyasu.

“Aku Raphtalia, senang berkenalan denganmu.”

Dia sepertinya sadar bahwa aku merasa terganggu. Aku mengetahuinya dari keringat dingin yang berada di wajahnya.
Perempuan ini juga ingin menyingkirkanku dan bergabung dengan kelompok Motoyasu?
Sialan, aku sedang mencoba membuat sesuatu lebih damai, lalu mengapa mereka semua masih saja menggangguku?

“Apa urusanmu disini, nona? Dengan tujuan apa kau membawa pedang dan mengenakan perlengkapan itu?”
“Aku disini untuk bertarung bersama Naofumi-sama.”
“Hah? Naofumi?”

Motoyasu berbalik kearahku dan melihatku dengan tatapan penuh curiga.

“... Apa yang kau lihat?”
“Kau iblis, kenapa kau membawa gadis cantik seperti ini ke tempat yang berbahaya?”

Motoyasu berbicara sambil menatap rendah ke arahku.

“Aku tidak perlu mengatakan alasannya.”
“Dan, aku pikir kau akan menangani ini sendirian… namun ternyata kau menggunakan kebaikan Raphtalia pada akhirnya.”
“Dasar tukang halusinasi.”

Kata-kata itu keluar dari mulut sialan itu, orang yang lebih mempercayai wanita jalang terburuk di dunia lain dari pada teman hero nya, sungguh sangat membuatku muak.
Aku berjalan ke arah Itsuki dan Ren untuk keluar.
Mereka dan pengikut mereka yang bahagia membukakan jalan untukku.

“Mari bertemu kembali saat gelombang tiba.”
“Jangan menghambat kami.”

Aku berjalan melewati mereka, saat itu Itsuki memberikan respon yang profesional, sementara Ren memberikan respon tidak sopan, seperti dia hanyalah satu-satunya hero.
Terkejut dengan sikapku yang tiba-tiba, Raphtalia dengan segera menuju ke sisiku sambil mengamati sekitar.

“Aku pergi.”
“Ah, baik! Naofumi-sama.”

Setelah mendengar suaraku, dia kembali ke sikapnya yang energik.
Ya ampun, itu tadi sungguh tidak menyenangkan.
Keluar dari pintu masuk menara, aku segera pergi menuju padang rumput melalui kota, setiap detik rasa frustasi semakin bertambah.

“Um, Naofumi-sama? Ada apa denganmu?”
“Tidak ada….”
“Tad…”
“Apa?”
“Tidak apa…”

Merasakan suasana hatiku yang buruk, Raphtalia mengikutiku dengan suasana sedih.
… kemudian balon liar muncul.
Dengan segera, Raphtalia mengeluarkan pedangnya.

“Tunggu, biarkan aku menangani ini sendirian.”
“Eh… tap--”
“Biarkan saja!.”

Raphtalia kaget dengan teriakkanku yang tiba-tiba.
Balon itu mendekatiku.

“Ora ora ora ora!”

Sial! sial! sial! sial! sial! sial!
Mengalihkan pikiranku dengan menghajar balon, setelah itu aku baru dapat tenang.
Aku men-cek sisa waktu dari pojokkan pandanganku.


[18.01]


18 Jam lagi.
Aku perlu melakukan apa yang perlu hingga waktu tiba.
Setelah itu, aku pergi berburu balon dan mengumpulkan tanaman herbal.
Tanaman itu masih perlu diproses agar menjadi obat yang dapat digunakan saat gelombang muncul.
Ketika malam tiba… setelah kembali ke penginapan untuk beristirahat, dengan lembut Raphtalia berbicara padaku.

“Naofumi-sama.”
“... Apa?”
“Pagi tadi, orang-orang itu adalah hero seperti Naofumi-sama kan?”
“... Urg.”

Dia mengingatkanku dengan sesuatu buruk.
Setelah aku melupakan apa yang barusan terjadi.

“Apa… yang terjadi diantara para hero?”
“Aku tidak ingin membahasnya. Jika kau ingin mengetahuinya pergi ke bar dan tanya sekitarmu.”

Tidak ada yang mempercayaiku ketika aku memberitahu kebenarannya. Gadis ini juga kemungkinan sama saja dengan yang lainnya.
Bagaimanapun, perbedaan Raphtalia dan yang lainnya adalah, dia adalah budakku.
Jika dia menolak perintahku, mencoba untuk lari, atau memberontak kepadaku, dia akan tersiksa oleh segelnya.
Memikirkan yang terbaik, Raphtalia tidak memaksa karena aku juga tidak ingin menceritakannya.
Bersiap untuk besok, aku membuat banyak obat hingga aku mengantuk. aku terus membuatnya dalam waktu yang sangat lama.




TL: LoliLover
EDITOR: Isekai-Chan