Tampilkan postingan dengan label WebNovel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WebNovel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Juni 2019

Death March kara Hajimaru Isekai Kyousoukyoku Bahasa Indonesia : Chapter 17-20. Demon God

View Article
Chapter 17-20. Demon God


Satou di sini. Meskipun tidak terbatas pada genre Tokusatsu, aku pikir berhadapan dengan empat Penjaga, jenderal dan sejenisnya sebelum penjahat utama dan pertempuran sengit yang mengikuti adalah hal wajib.


『Ini lezat.』

Gadis kecil berambut merah muda menggigit kue strawberry dengan mata berseri-seri.

"Yies ?"
"Mont Blanc di sini juga enak nodesu."

"Organisme muda, aku sarankan puding di sini juga jadi aku informasikan."

Tama, Pochi, dan Nana sedang menghibur gadis kecil itu dengan manisan.
Karena gadis kecil itu berbicara dalam bahasa Age of Gods, aku mendukung percakapan mereka dengan force magic, [Translate: Age of Gods Language].

Kami berada di sub-space yang baru dibuat di atas gurun besar.
Aku membawanya ke sini daripada Solitary Island Palace karena akan buruk jika wali gadis kecil itu, Demon God, menyerbu tempat itu.

Manisannya adalah pelumas untuk membuat gadis kecil lebih rentan untuk membocorkan sesuatu.

Selain tumpukan manisan di atas meja, area ini dipenuhi Arisa [Rumah Manisan] yang diarahkan Arisa, aroma manis tetap hidup di udara.

"Dan inilah Chocolate Fondue "
"Wa i, choco ?"
"Gureato nanodesu!"

Ketika robot pembantu - maksud ku boneka hidup yang berada dibelakang Lulu membawa magic tool yang mengatur suhu yang tepat untuk cokelat dengannya, Tama dan Pochi melompat keluar dengan gembira.

Hanya aku, dan orang-orang yang disebutkan di atas ada di sini.
Semua anggota lain tetap tinggal di Solitary Island Palace untuk keselamatan.

『Choco? Itu terlihat seperti lumpur ... 』
"Organisme muda, cokelat itu keadilan, jadi aku katakan."

Nana mengajari gadis kecil yang ragu-ragu itu cara membuat cokelat fondue.

『Sangat lezat!』
"Tentu ?"

Gadis kecil yang dengan takut-takut menggigit biskuit berlumur cokelat dengan berseri-seri, Tama yang duduk di sebelahnya mengangguk mengakui faktanya.

"Mencelupkan buah-buahan ke sini enak juga nodesuyo."

'Pisang cokelat adalah yang terlezat nanodesu', Pochi menambahkan.

--Aku pikir sudah waktunya?

Aku berbicara dengan gadis kecil itu saat dia sudah santai.

『Apakah itu lezat?』
『Un!』

Gadis kecil dengan cokelat lengket di mulutnya membalas.
Semakin dekat aku melihatnya, semakin mirip dia dengan gambar gadis kecil di Shadow Castle Rumooku Kingdom dan tubuh yang ada di dalam Tabung Perkembangbiakkan yang ku temukan di sana.

Sayangnya, penilaian dan pembacaan AR hanya menunjukkan UNKNOWN, dan tidak lebih.

『Apakah kau tidak mendapatkan manisan di tempatmu?』
『Nnn. Kami memang mendapatkan beberapa, tetapi hanya setelah makan dan selama waktu makan siang. 』

Gadis kecil itu menjawab sambil memegang sesendok es krim.

『Siapa yang membuat manisan untukmu?』
『Ibu! 』

Bayangan kecantikan seksi berambut merah muda muncul di benak ku.

"Orang seperti apa (manusia) ?"
『Dia bukan manusia! Dia demon dengan tanduk seperti ruby! 』

Gambar di pikiran ku berubah bentuk sekaligus.

Tama dan Pochi terkejut ketika mereka mendengar kata demon, tetapi karena itu akan rumit, aku dengan cepat pergi berkeliling, menutup mulut mereka dan membuat isyarat tangan mengatakan kepada mereka untuk tetap diam.

『Apakah ibu-san adalah istri tuanmu?』
『Tidak, dia adalah pelayan Tuan-sama. Dia seperti demon terkuat yang pernah ada, itulah yang dia katakan! 』

Gadis itu banyak bicara.

Aku berpura-pura terkesan, "Hee, itu luar biasa", dan menuangkan lebih banyak teh manis biru padanya.

『Apakah kau diperintahkan oleh tuanmu untuk melakukan hal-hal yang kau lakukan di menara?』

『Un - ah salah! Lupakan apa yang kukatakan! Ini sebuah rahasia!" 』

Gadis kecil yang secara refleks mengangguk pada pertanyaanku membantah dengan panik.
『Begitu ya, mau bagaimana lagi kalau ini rahasia.』
『Yap ya, mau bagaimana lagi.』

Gadis kecil yang terus mengangguk meraih parfait dengan sendok panjang seolah-olah dia sedang mencoba untuk menghabisinya.

『Jadi apa yang coba dilakukan Demon God-sama?』
『Tidak tahu. Ini seperti sesuatu yang sangat menakjubkan! 』

Aku kira hal-hal yang tidak jelas tidak harus dirahasiakan?

Aku sengaja mengganti [Tuan-sama] ke [Demon God-sama] dalam pertanyaan tadi, dan gadis kecil itu membalas tanpa ragu-ragu.
Seperti yang diharapkan, ternyata gadis-gadis kecil ini bertindak atas nama Demon God.

"Nyu!"

Telinga Tama berdiri.

Pada saat yang sama, sebuah suara bergema di sub-space.

『Haruskah aku memberimu jawaban yang kau cari.』


Retakan ungu meluas di ruang angkasa, lalu siluet ungu gelap seperti malam muncul.

『Tuan-sama!』

Gadis kecil berambut merah muda mengatakan itu dengan riang.

"Tama."
"Ya."

Tama membawa Pochi dan Nana ke dalam bayangan.
Evakuasi selesai.

『Ini akan menjadi pertemuan pertama kita di dunia ini, bukan, Demon God-sama.』

Aku berbicara dengan Demon God yang telah mengambil bentuk bayangan.
Mungkin sosoknya seperti figur dua dimensi yang menggunakan topeng penutup mata seperti milikku.
<TLN : Masqueradi Mask >

Tentu saja, hasil penilaian dan pembacaan AR menunjukkan UNKNOWN. 

『Betapa riangnya dirimu, tidak layaknya seperti pendosa.』
『Pendosa? 』
『Hmph, Kau menculik familiar Dewa. Tentu saja Kau siap menerima hukuman yang pantas, bukan? 』
『Tolong jangan katakan penculikan, itu hanya kesalahpahaman.』

... Aku bertanya-tanya apa ini?

Sesuatu menggangguku saat aku berbicara dengan Demon God meskipun aku tidak yakin apa itu.
Apakah karena cara dia berbicara benar-benar berbeda dari ketika aku melihatnya di Alam Dewa, mungkinkah itu alasannya?

『Kami menerima laporan tentang seseorang yang menghasut monster menuju para explorer di menara, maka kami meluncurkan operasi penangkapan tetapi saat kami menyadari bahwa kami telah menangkap seseorang dari sisi manajerial, kami menyajikan makanan lezat sebanyak yang ia inginkan sebagai permintaan maaf.』

Aku memberi tahu Demon God alasan yang telah ku siapkan sebelumnya dengan bantuan skill Penipuan.

『Hmph, alasan yang tidak berguna.』

Aku tidak bisa mengatakan ekspresinya di balik bayangan, tapi auranya seperti dia tertawa mengejek.

Demon God mengangkat satu tangan, lalu retakan ungu di belakangnya terbelah, gadis-gadis kecil yang tak terhitung jumlahnya melompat keluar dari udara kosong.
Setiap gadis kecil ini terlihat persis sama dengan yang pertama.

『Aah! Dia makan kue sendiri! 』
『Enak sekali. Beri aku juga! 』
『Enaknya 』

Semua gadis kecil itu dipersenjatai dengan sabit raksasa dan pedang besar, tetapi begitu mereka melihat kue, mereka membuang senjata mereka dan bergegas menuju manisan di atas meja.

『Hei, ah, tapi itu milikku!』
『Eeh, tidak apa-apa.』
『Benar benar, monopoli itu buruk.』
『Aah! Semua rumah kecil ini terbuat dari permen! 』
『Eeh, itu sangat keren !』
『Atap biskuit. Dan jendela jelly! 』
『Enaknya 』

Mereka terlihat seperti anak-anak normal ketika aku melihat mereka menikmati manisan seperti ini.

『--Dan?』

Demon God yang sedang memandangi bagaimana gadis-gadis kecil itu melakukannya, mengalihkan pandangannya kepadaku dan mengangkat dagunya.

『Apakah kau tidak memiliki sesuatu untuk ditanyakan?』

Sepertinya waktu pertanyaan masih berlaku.

Nah, dari mana aku harus bertanya -.


『Apa yang kau coba lakukan dengan menara?』

Mungkin aku harus menanyakannya secara langsung.

『Pembaruan untuk dunia.』

Aku senang dia merespons, tetapi aku masih tidak mengerti apa yang dia maksud dengan 'memperbarui' di sini.

『Seperti apa?』
『Persis seperti yang dikatakan.』

Sepertinya dia akan terus mengelak.

Kukira aku harus bertanya lebih detail ...

『Apakah mengadu domba explorer dengan monster yang lebih kuat menjadi bagian dari pembaruan ini juga?』

Aku berbicara sambil memandangi gadis-gadis kecil yang asyik makan manisan.

『Tepat. Tingkat ketegangan tertentu diperlukan untuk [Menara Pengadilan]. Itu bukan tempat bagi orang bodoh yang tak punya pikiran untuk menikmati poin exp yang mudah. 』

Metodenya agak terlalu ekstrem bahkan jika itu tujuannya.

『Kau pikir itu terlalu ekstrem?』

Karena dia bertanya seolah dia telah membaca ekspresiku, aku memberikan penegasanku.

『Monster yang diambil oleh gadis-gadis itu dari lantai lain terikat oleh [Rantai Ungu-Biru], yang membatasi rentang aktivitas mereka. Seseorang dapat dengan mudah lari dari mereka begitu seseorang membuang segalanya. Kau hanya perlu mengawasi sekeliling dan siap membuang segala sesuatu sebelum melarikan diri. 』

Yang berarti explorer yang menimbun barang rampasan di lantai yang mudah bagi mereka akan berakhir selama mereka tidak akan melepaskan keserakahan mereka ya ...

『Naga itu menerobos.』
『Maksudku, benda itu menggigit, hmph.』
『Taring-taring itu tidak adil.』

Skill Attentive Ears ku mendengar beberapa percakapan gadis-gadis kecil.
Sepertinya bahkan [Rantai Ungu-Biru] yang disebutkan Demon God ini tidak sempurna.

『Lalu bagaimana dengan ketidakstabilan holy magic para priest di dalam menara?』
『Ini bug.』

--Bug?

『Bahkan dewa tidak sepenuhnya sempurna. kau bisa tahu setelah melihat dewa di wilayah mereka, bukan? Ada kekurangan dalam sistem yang menyesuaikan kestabilan iman pada menara. Yang pada gilirannya bermanifestasi menjadi ketidakstabilan holy magic. Aku akan segera memperbaikinya, maafkan aku. 』

Demon God berkata begitu tanpa malu.

Aku tidak bisa membaca ekspresinya di bawah bayangan, jadi aku tidak bisa mengatakan apakah dia hanya membuat alasan atau itu adalah kebenaran.
Aku akan mengambil risiko menimbulkan kemarahannya dan mendorong sedikit lebih jauh di sini.

『Jadi itu tidak seperti menggunakan sistem menara untuk merebut iman yang diarahkan kepada dewa.』

Demon God tersenyum lebar ketika dia mendengarku.
Senyum berbentuk bulan sabit berwarna merah keunguan terbentuk pada bayangan ungu-kebiruan.

『--Itu hal lucu yang kau ucapkan.』

Suara dingin yang memunculkan ilusi suhu yang turun dengan cepat di sub-space ini.

『Apakah kau mengatakan bahwa aku meniru Thief God yang dibenci oleh para dewa?』

Oh benar, salah satu dewa memang mengatakan sesuatu seperti itu.

『Tidak, bukan itu yang aku maksud.』
『Lalu katakanlah, katakan apa yang Kau maksud.』
『Setelah mendengarkan kesaksian para priest yang telah menjelajahi menara, aku membuat dugaan bahwa mungkin seseorang mencoba untuk mencuri iman di menara.』

Tekanan yang datang dari Demon God semakin kuat.
Aku kira mengatakan [mencuri iman] lagi adalah langkah yang buruk.

Demon God mengayunkan tangannya lalu sebuah batu tulis muncul di depannya.
Aku tidak bisa melihatnya dari sini, tetapi batu tulis itu tampaknya berisi semacam informasi, Demon God mengoperasikan batu tulis seolah-olah sebuah tablet dengan satu tangan.

Sepertinya dia sedang mencari sesuatu.

『Sialan kau Zaikuon ...』

Demon God bergumam.

Dewa itu menyebabkan masalah lagi ya.

『Ku ucapkan terima kasih atas laporan bug ini.』

Setelah mengatakan bahwa Demon God memberi tahu gadis-gadis kecil, "Kita akan kembali".

『Eeh, tapi kami masih makan.』
『Mengapa kau juga tidak mencicipinya Tuan-sama?』
『Ini lezat lho?』

Gadis-gadis kecil itu mengajukan keberatan.

Entah bagaimana aku bisa tahu aura kebingungan datang dari Demon God.

『Jangan sungkan untuk membawa semuanya sebagai hadiah』
『Oh benarkah. 』

Demon God mengayunkan lengannya, lalu bayangan membentang darinya untuk membentuk jaring, menelan rumah-rumah manisan dan manisan di atas seluruh meja.

『Aku akan mengabaikan dosamu kali ini sebagai terima kasih atas keramahan dan laporan sebelumnya. 』

Setelah mengatakan itu, Demon God melangkah ke sisi lain dari sub-space bersama dengan gadis-gadis kecil.

Kurasa dia mengatakan bahwa selanjutnya dia tidak akan menunjukkan belas kasihan pada saat kita membuat gerakan pada gadis-gadis kecil itu.

『O Lesser Goods (Irregular). Aku akan memberimu satu peringatan. 』

- Lesser Goods?
<TLN : Entah yang dimaksud Goods(Barang) atau God(Dewa) yang diperpanjang pengucapannya. Jika yang dimaksud adalah God, Lesser God bermakna Dewa kecil / lebih rendah>

『Dewa yang memiliki iman berlebihan di tangan mereka akan melakukan kesalahan. Awasi gerakan mereka. 』
『Aku sangat berterima kasih atas saranmu.』

Aku membungkuk untuk berterima kasih kepada Demon God atas nasihatnya.
Pada saat aku mengangkat kepala, Demon God dan retakan pada sub-space telah hilang.


Setelah menutup sub-space yang telah habis kegunaanya, aku datang ke mansion di Blue Territory sebagai tindakan pencegahan terhadap Demon God yang mungkin mengikutiku.
Gate yang Arisa dibuat dengan magic space dibuka tepat di depanku.

"Master, apakah kau baik-baik saja?"

Arisa melintasi gate bersama dengan gadis-gadis lain.

"Ya, tentu saja."

Aku menyampaikan percakapan ku dengan Demon God kepada para gadis.

"Hmm [Pembaruan untuk Dunia]... Itu makna yang terlalu luas."
"Ya."

Pada akhirnya, dia pergi sebelum aku bisa bertanya apa artinya.

"Lalu apakah itu berarti orang yang telah mencuri keilahian di menara adalah Dewa Zaikuon, bukan Demon God?"
"Itu jika Demon God tidak berakting."

Kita tidak bisa mengesampingkan kemungkinan bahwa itu semua adalah tindakan untuk membuatku memusnahkan Zaikuon.

"Tidak bisakah kita menahannya untuk saat ini? Yang lebih penting, kita harus memberi tahu semua administrator menara tentang bagaimana monster dari luar lantai masuk dalam [Spesifikasi Menara] bersama dengan saran Demon God."

Sangat seperti Hikaru untuk memprioritaskan penyelamatan jiwa.

"Kau benar. Bisakah aku mengandalkanmu untuk menghubungi raja dan Echigoya Firm?"
"Ya, serahkan saja padaku."

Setelah mengatakan itu, Hikaru masuk ke gate yang Arisa buka.
Sepertinya sisi lain dari gerbang ini adalah rumah ibu kota.

"Apakah aman untuk berasumsi bahwa ada dewa yang mencoba mencuri keilahian?"
"Kemungkinan."

Kita tidak dapat menyimpulkan apakah itu benar-benar Zaikuon seperti yang dikatakan Demon God, atau itu adalah Demon God sendiri.

"Master, apakah Demon God benar-benar sekuat itu?"

Aku tidak yakin bagaimana menjawab Liza di sini.

"Setidaknya, aku tidak bisa sepenuhnya memahami kekuatannya yang sebenarnya, kurasa?"
"Eh benarkah? Karena『 Demon God Offshots 』seperti itu, aku membayangkan dia akan lebih menakutkan—"
"--Itu dia!"

Aku menyadari apa yang telah mengganggu ku ketika aku bertemu Demon God.

Tiga garis hitam tipis yang pernah dipanggil di langit ibukota - [Demon God Offshots], ketakutan membekukan jiwa yang kurasakan darinya,
Aku tidak dapat merasakan hal seperti itu dari Demon God sendiri yang ku temui hari ini.

"Ada apa, Master?"

Aku menjelaskan kecurigaanku kepada gadis-gadis yang terkejut pada ku tiba-tiba mengangkat suara ku.

"Artinya, Demon God yang kau temui tadi bukan tubuh asli?"
"Sepertinya. Mungkin sesuatu yang mirip dengan Avatar Dragon Blood yang digunakan Heavenly Dragon dan Black Dragon."

Aku membuka Peta untuk memeriksa Penanda.

--Geh.

Penanda yang seharusnya ada di Demon God telah menghilang.
Sama dengan gadis-gadis kecil.

Aku benar-benar tidak bisa membiarkan pertahananku turun melawan Demon God.

"Tetap saja, baginya untuk memberikan peringatan, aku benar-benar tidak mengerti apa yang coba dilakukan Demon God."
"Dia pasti merencanakan sesuatu yang jahat pasti."

Mendengar ucapan sang putri, Sera mengatakan sesuatu yang Tenion Miko akan katakan.

"Master, apakah Demon God orang jahat, atau adil, jadi aku bertanya."
"Aku tidak bisa mengatakan dengan pasti pada saat ini."

Cukup disayangkan.

"Orang jahat sehrusnya melakukan apa yang orang jahat lakukan nodesu."
"Uy uy ?"

Pochi dan Tama berbicara menggantikan pemikiran batinku.

"Jika dia akan menyakiti orang, maka kita hanya perlu menghancurkannya dengan segenap kekuatan kita."
"Tapi itu agak terlalu kejam."
"Nn, setuju."

Zena-san dan Mia membantah pernyataan agresif Lady Karina.

"Tuan, aku ingin mengajak Pochi dan para gadis mengikuti pelatihan ku, apakah Kau mengizinkan kami?"
"Ya tentu saja."

Liza yang diam saja berbicara.
Liza melakukan latihan bukanlah hal yang aneh, tetapi ada sesuatu yang sedikit berbeda tentang dirinya sekarang. Sepertinya diskusi kita sekarang berpengaruh padanya.

Aku mengirim Liza dan gadis-gadis pergi dengan Unit Arrangement.

"Sekarang, kurasa aku akan kembali ke rumah ibu kota untuk saat ini -"

Maksudku, tidak ada tanda-tanda Demon God atau gadis kecil berambut merah muda, seharusnya tidak masalah jika aku kembali untuk saat ini.

"--Satou."

Mia memanggil ku.
Pohon-pohon di sekitarnya bergemerisik walaupun tidak ada angin.

『--To - ng--』

Aku bisa mendengar suara seseorang dari pepohonan yang gemerisik.

Aku meregangkan telingaku

『Satou, tolong. Aze, buruk. 』

--Aze-san ?!

Pohon-pohon Blue Territory berulang kali menceritakan tentang krisis yang menimpa Aze-san.

"Arisa, aku akan menyerahkan sisanya padamu."

Merasa gelisah bahkan saat mengatakan kata singkat itu, aku berpindah ke Hutan Boruenan dengan Unit Arrangement.

Aku datang untukmu, Aze-san!


Note :
Yep, mimin juga masih meragukannya. Apakah si Demon God baik atau buruk, dan menurut mimin sih dia lebih ke licik. Dan apa yang akan terjadi pada aze-tan :'v damn, moga-moga gak direbut sama dewa lain.


※Next update dijadwalkan untuk keluar pada 26/6.


PREVIOUS CHAPTER          NEXT CHAPTER


TL: Haze
EDITOR: Isekai-Chan

Minggu, 12 Mei 2019

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 22. Yang Ingin Aku Dengar

View Article
Chapter 22. Yang Ingin Aku Dengar


“Apa yang kau maksud dengan ‘menang’!? duel satu lawan satu kita diganggu!?”

“Apa yang kau katakan? kau kalah karena kau tidak bisa bertahan dari seranganku.”

…kurang ajar, kau benar-benar mengatakan itu?
Omong kosong apa yang mengatakan hero tidak boleh memiliki budak!
Sampah, berpura-pura menjadi pahlawan namun sebenarnya pertarungan ini hanya untuk kesenanganmu sendiri.

“Temanmu mengganggu di tengah pertarungan! Itulah mengapa aku terjatuh!”
“Ha! Apa itu alasan palsumu?”
“Bukan itu, brengsek!”

Motoyasu yang kurang ajar memandang rendah kearahku, mengabaikan keluhanku sambil menikmati kemenangan.
Walaupun memang tadi ada pengganggu… kurang ajar!

“Apakah begitu?”

Para penonton memandangi Motoyasu.
Apa mereka tidak melihat apa yang terjadi? Semuanya terdiam.

“Tidak ada gunanya mempercayai perkataan hero kriminal. Hero tombak! ini adalah kemenanganmu!”

Brengsek itu!
Seperti biasa, sang Raja mengumumkan hasilnya dengan lantang.
Meskipun, beberapa dari kerumunan tidak yakin. Mereka melihat kesekeliling seolah mereka ingin berkata.
Namun, tidak akan ada yang berani menantang hasil yang diberikan raja.
Karena raja telah membungkam semua perbedaan pendapat.
Kerajaan ini telah terdiktator.

“Seperti yang diharapkan dari Motoyasu-sama!”

Wanita jalang yang merupakan dalang dari semua ini, tanpa rasa malu berlari kearah Motoyasu.
Terlebih lagi, penyihir kastil hanya menyembuhkan Motoyasu, Merawat lukanya seperti mereka tidak ingin membantuku.

“Fumu, seperti yang diharapkan dari hero yang dipilih oleh anakku, Malty.”
Raja itu berbicara saat dia menepuk pundak Mein.

“A-Apa!?”

Mein adalah anak raja?

“Ah… Aku juga terkejut bahwa ternyata Mein adalah putri kerajaan. Dia menggunakan nama palsu untuk membaur bersama kita.”
“Ya… aku ingin membantu untuk kedaiaman dunia ”

...Begitu. Jadi seperti itu.
Memang aneh aku dengan mudahnya di cap sebagai kriminal hanya dari pengakuan korban.
Jadi seperti itu… sang Raja mengabaikan putri bodohnya yang egois dan menjatuhkan tuduhan palsu kepadaku dengan bukti palsu. Demi hero yang dipilih putrinya, dia mengorbankanku dan mengambil kembali uangku hanya karena aku adalah yang terlemah diantara para hero.
Dan karena Motoyasu menyelamatkan sang putri dariku, mereka menjadi sangat dekat, lebih dekat dari para gadis lainnya.

Ini juga menjelaskan mengapa aku mendapatkan dana tambahan saat awal.
Dengan kata lain, dia dapat mendapatkan perlengkapan yang bagus untuk dirinya dan untuk membantu hero yang dipilihnya, Motoyasu.
Jika hanya Motoyasu yang memulai dengan perlengkapan yang bagus, seharusnya raja mengetahui ada yang tidak beres.
Dengan perencanaan yang matang, sudah pasti tidak ada jalan lain untuk mengetahui kebenaran selain dari penjahatnya. Hasil akhirnya adalah, Hero tombak yang menyelamatkan putri dari Hero perisai yang jahat.

Walaupun lambat, semuanya menjadi jelas.
Tidak ada bukti selain pukulan yang aku terima, yang bahkan tidak memberikanku damage walaupun aku terjatuh. Tidak ada bukti yang jelas bahwa putri telah berbuat curang.
Jika ada perdebatan mengenai pertandingan ini, mungkin akan dibungkam dibalik layar.
Jadi dia dapat menganggu duel dan membantu hero kesayangannya, Motoyasu.

Itu berarti, ini semua telah direncanakan dari awal agar aku dan Motoyasu berduel.
...Oh, ini sederhana. Yang harus dilakukannya hanyalah berbisik kepada raja.

“Gadis itu telah dipaksa menjadi budak oleh hero perisai. Tolong selamatkan dia.”

Sebuah kesempatan untuk menguji potensi suaminya dan juga membuat dirinya terlihat baik. Dia pasti tidak akan melewatkan kesempatan ini.
Jika mereka benar-benar menikah, Ini pasti akan menjadi kisah pahlawan dimana mereka menyelamatkan seorang budak dari seorang penjahat.
Dan dimasa depan, namanya akan dikenang sebagai istri dari hero yang telah mengalahkan hero jahat.
Sial! Raja sampah ini dan wanita jalang ini!

Tunggu dulu… sang putri, adalah wanita jalang…?

Cerita ini, dimana aku pernah mendengarnya?
Dimana? dimana aku mendengar sesuatu seperti ini?
… Aku ingat sekarang. Aku membacanya di novel ‘Senjata empat orang suci’.
Didalam buku itu sang putri adalah wanita jalang yang berhubungan dengan semua hero yang ada.
Jika buku yang aku baca di perpusatakaan berhubungan dengan dunia ini, maka akan masuk akal jika putri ini adalah wanita jalang.
Hal yang sama juga dapat berlaku kepada para hero sialan lainnya.

Rasa marah mendidih dari bagian terdalam dari tubuhku.


[Seri Kutukan]
[Kondisi untuk membuka perisai telah terpenuhi]


Pandanganku terganggu perisaiku juga termakan oleh emosi gelap yang muncul dari hatiku.

“Baiklah Motoyasu-dono, gadis yang telah hero perisai perbudak sudah menunggu.”

Kerumunan mulai menyebar bersamaan dengan para penyihir mulai melepaskan Raphtalia dari segel budaknya.
Para penyihir membawa semangkuk cairan dan mengolesinya pada segel budak Raphtalia.
Segelnya hilang tepat didepan mataku.
Raphtalia sekarang sudah terbebas dari segelku.
Perutku bergejolak hatiku termakan oleh perasaan jahat.
Jika dunia ini mengejek dan mencemoohku, dan semua nya hanya menertawakan perjuanganku.
Yang bisa aku lihat… hanyalah senyum gelap yang samar-samar terasa disekitarku.

“Raphtalia-chan”

Motoyasu berlari kearahnya.
Raphtalia, dengan air liur yang keluar dari mulutnya dan air mata yang keluar membasahi mukanya, dia ---- menampar Motoyasu.

“Kau… kurang ajar!”
“...Eh?”

Motoyasu terdiam bingung setelah ditampar.

“Aku tidak pernah meminta untuk diselamatkan olehmu!”
“N-Namun Raphtalia-chan telah disalahgunakan oleh Naofumi kan?”
“Naofumi-sama tidak pernah memaksaku untuk melakukan suatu hal! dia hanya menggunakan segel itu jika aku takut untuk bertarung!”

Tertidur karena pingsan, aku tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan.
Tidak, sebenarnya aku mendengarnya.
Namun aku tidak ingin mendengarkan siapapun.
Aku hanya ingin cepat-cepat keluar dari sini.
Aku ingin kembali ke duniaku.

“Dia seharusnya tidak seperti itu!”
“Naofumi-sama tidak bisa mengalahkan monster sendirian. Itulah alasan mengapa dia harus bergantung pada seseorang.”
“Kau tidak perlu melakukan itu! Dia hanya akan menggunakanmu hingga kau rusak!”
“Naofumi-sama tidak pernah membiarkan suatu monster melukaiku! dan saat aku lelah dia membiarkanku berisitirahat!”
“Ti-tidak… dia bukanlah tipe orang seperti itu…”
“... Apa kau mau mengulurkan tanganmu untuk budak kotor yang memiliki penyakit?”
“Eh?”
“Naofumi-sama telah memberiku banyak hal. Dia mengizinkanku memakan makanan apapun yang aku mau. dia memberiku obat saat aku sakit. Apa kau bisa melakukan itu?”
“B-bisa!”
“Maka harusnya kau memiliki budak disisimu sekarang!”
“!?”

Entah mengapa… Raphtalia berlari kearahku.

“Me-menjauh!”

Ini… adalah neraka.
Dunia yang jahat.
Wanita - tidak - semua orang di dunia ini mencemoohku seolah sedang menyiksaku.
Jika dia menyentuhku, maka aku hanya akan mengingat kenangan buruk itu lagi.
Raphtalia menyaksikan kondisiku dan kembali memandangi Motoyasu.

“Aku telah mendengar rumor… bahwa Naofumi-sama memaksakan dirinya ke pengikutnya, dan dia adalah hero yang jahat.”
“A-ah. Dia adalah pemerkosa! untuk budak perempuan, seharusnya kau mengerti itu kan?”
“Mengerti apa!? Naofumi-sama bahkan tidak pernah menyentuhku!”

Raphtalia menggenggam tanganku.

“Le-lepaskan!”
“Naofumi-sama… bagaimana caraku mendapatkan kepercayaanmu?”
“Lepaskan tanganku!”

Semua orang didunia ini menuduhku melakukan kejahatan yang tidak aku lakukan.

“Aku tidak melakukannya.”

Pompf…

Diriku yang sedang bersedih terselimuti oleh sesuatu.
“Tidak peduli apapun, aku akan selalu mempercayaimu Naofumi-sama.”
“Diam! kalian semua hanya akan memberikan tuduhan lagi kepadaku!”
“... aku tidak percaya rumor itu. Kau adalah orang yang tidak akan melakukan hal seperti itu.”

Aku mendengar suatu kata yang sangat ingin aku dengar sejak aku datang ke dunia ini.
Perlahan, bayangan yang mengganggu pandanganku mulai memudar.
Aku menerima kehangatan dari orang lain.

“Walaupun seluruh dunia menyalahkan Naofumi-sama, aku berbeda… Apapun yang dibutuhkan, aku akan menangkal semuanya.”

Ketika aku mengangkat kepalaku, apa yang berada di depan mataku bukanlah gadis kecil namun adalah gadis remaja sekitar 17 tahun.
Namun penampilannya terlihat mirip seperti Raphtalia, dia adalah gadis yang sangat cantik.
Yang dulunya memiliki kulit yang kering, dan penuh luka, sekarang menjadi sehat, dengan rambut indah yang memiliki warna sedikit berdebu.
Tubuh yang dulunya hanya tulang dan kulit, sekarang memiliki lekuk tubuh yang ideal.
Yang lebih penting, matanya tidak lagi terpenuhi dengan keputusasaan, namun terpenuhi dengan cahaya semangat yang kuat.
Aku tidak mengenal gadis seperti itu.

“Naofumi-sama, mari pergi dan berikan aku segel yang baru.”
“Si-siapa kau?”
“Eh? Apa yang kau katakan? Ini aku Raphtalia.”
“Tidak-tidak-tidak bukankah Raphtalia adalah gadis kecil.”

Dia mengaku bahwa dia adalah Raphtalia. Terlihat bingung, dia memiringkan kepalanya sambil meyakinkanku.

“Hmm, Naofumi-sama selalu memperlakukanku seperti anak kecil.”

Suara itu… memanglah suara Raphtalia, aku ingat.
Namun tubuhnya benar-benar berbeda.
Tidak-tidak-tidak, ini aneh meskipun dia adalah Raphtalia.

“Naofumi-sama, aku akan mengatakan ini karena situasinya.”
“Apa?”
“Ketika Demi-human menaikan level mereka, tubuh mereka juga akan tumbuh dengan cepat untuk menyamakan pertumbuhan levelnya.”
“Eh?”
“Demi-human tidaklah sama seperti Manusia. mereka lebih mirip seperti monster.”

Malu, gadis yang mengaku sebagai Raphtalia melanjutkannya.

“Meskipun pikiranku masih sama seperti anak kecil, tubuhku sudah setara dengan orang dewasa.”

Ketika mengatakan ini, Raphtalia sekali lagi memeluk kepalaku di dadanya.

“Tolong percaya padaku. Aku percaya bahwa Naofumi-sama tidak pernah berbuat kejahatan. kau adalah hero perisai yang baik, yang telah menyelamatkan nyawaku, memberikanku obat, mengajariku caranya bertahan hidup dan bertarung. Aku adalah pedangmu, dan aku akan mengikutimu apapun yang mengahalangi.”

Itu semua adalah… kata-kata yang inign aku dengar.
Kata-kata itu diucapkan ketika Raphtalia berjanji untuk bertarung bersamaku.

“Jika kau tidak percaya padaku, jadikan aku budakmu kembali atau lakukan apapun yang kau mau. Aku akan terus bersamamu.”
“Ku...u...uuu”

Dari kata terbaik yang aku terima setelah aku berada di dunia ini, tanpa disadari aku mulai menangis. Meskipun aku beripikir bahwa seharusnya aku tidak menangis apapun yang terjadi, Aku tidak bisa menghentikan air mata yang mengalir.

“Uuuu…..uuuuuuuuuuu”

“Duel barusan… Motoyasu di-diskualifikasi.”
“Haa!?”

Ren dan Itsuki muncul dari keramaian dan berbicara.

“Kami melihat dengan jelas dari atas, bahwa salah satu pengikutmu menggunakan sihir angin kearah Naofumi.”
“Tidak, tapi… itu tidak mungkin.”
“Raja terdiam. kau paham apa maksud dari itu kan?”
“... apa yang terjadi?”

Motoyasu memutar kepalanya melihat kearah penonton.

“Namun dia menyerangku dengan monster.”
“Mereka tidak memberikan damage. Kau dapat memeriksanya sendiri.”

Bertindak seolah benar sendiri, Ren memojokan Motoyasu.

“Namun… dia! dia mengincar mukaku dan selangkanganku!”
“Menggunakan taktik kotor setelah dipaksa mengikuti pertarungan yang tidak mungkin dia menangkan. Kita harus memakluminya.”

Setelah mendengar perkataan Itsuki, Motoyasu menyerah adu pendapat dengan muka yang tidak senang.

“Pertarungan ini mungkin menjadi kesalahanmu, jadi biarkan saja.”
“Hmph… sungguh hasil yang mengecewakan. aku masih curiga bahwa Raphtalia-chan telah dicuci otak.”
“Bagaimana kau masih bisa berkata seperti itu setelah melihat mereka seperti ini?”
“Itu benar.”

Dengan suasana yang menjadi aneh, para hero mulai pergi dan kerumunan orang mulai kembali ke kastil.

“...Hmph! membosankan.”
“Ya… ini adalah hasil yang mengecewakan.”

Mereka yang tidak puas dengan hasil pertandingan pergi dengan jengkel. Hanya aku dan Raphtalia yang tersisa.

“Pasti sangat sulit bagimu. Aku tidak menyadarinya hingga sekarang. Mulai sekarang, aku akan ikut menanggung beban itu.”

Kesadaranku menghilang ketika aku mendengar kata-kata itu.

Setelah itu, aku tidur dipelukan Raphtalia sekitar satu jam. Aku terkejut, aku tidak menyadari pertumbuhan Raphtalia yang begitu banyak.
Kenapa aku tidak menyadarinya?

… Aku terlalu stress, mungkin.

Aku tidak memiliki kesempatan untuk memeriksa pertumbuhan Raphtalia. yang selalu aku periksa hanyalah statusnya yang meningkat di layar.
Jamuan sudah berakhir. Jadi aku tertidur di ruangan berdebu yang sudah tidak digunakan, yang awalnya disiapkan untuk pelayan.

Seseorang mempercayaiku. hanya dengan itu, aku merasa beban dalam hatiku terangkat.

Akibat masalah ini sudah selesai, esok harinya saat sarapan.
Untuk pertamakalinya sejak aku di khianati Mein, Indra perasaku kembali berfungsi.


PREVIOUS CHAPTER          NEXT CHAPTER


TL: LoliLover
EDITOR: Isekai-Chan

Selasa, 02 April 2019

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 21. Kontradiksi Dalam Beraksi

View Article
Chapter 21. Kontradiksi Dalam Beraksi


Kebun di kastil menjadi lapangan duel.
Obor memenuhi pinggiran area. Mereka yang menikmati pesta ikut melihat pertarungan antara hero.
Bagaimanapun, hasilnya sudah diketahui dari awal.
Pertarungan antara aku, hero perisai yang tidak memiliki kemampuan menyerang, dengan Motoyasu yang tidak lain adalah hero tombak.
Pertarungan antara kelompok hero perisai dan kelompok hero tombak… tidak seperti itu. Ini hanya aku dan Motoyasu, satu lawan satu.
Seperti yang diduga, Harga diri Motoyasu sangat tinggi, sehingga ini menjadi duel.
<TLN : Harga diri tinggi, tidak ingin dibantu teman party nya>
Semua orang sudah bisa menebak hasilnya.
Suara orang yang memasang taruhan bahkan tidak bisa didengar.
Tidak hanya para bangsawan yang berada di kastil, namun para petualang yang ikut melawan gelombang juga ada disana.
Umumnya, pasti tidak akan ada yang bertaruh.
Dengan kata lain, semuanya tahu bahwa aku akan kalah.
Ren dan Itsuki juga berada di teras, melihat sambil tertawa.
Kekalahanku, kehilangan budakku, sepertinya semua orang ingin melihatnya.

Sial! sialsialsialsialsial!

Semua orang ingin merebut apa yang aku miliki dengan paksa.
Bahkan dalam gelombang, aku dihujani bola api.
Dimana-mana, yang bisa aku temukan hanyalah musuh yang menghinaku.
… baik. Sepertinya kekalahan hanyalah pilihanku. Namun, tidak akan aku berikan dengan cuma-cuma.
Bersiap, Motoyasu. Dendamku tidak bisa aku tahan.

“Baiklah, duel antara hero tombak dan hero perisai akan segera dimulai! Hasilnya akan diputuskan jika salah satu tidak bisa bertarung lagi atau mengakui kekalahan.”

Memutar pinggangku untuk pemanasan dan melemaskan jari-jariku, aku sudah siap.

“Siapakah yang akan menang diantara perisai dan tombak? Jawabannya… belum dipastikan.”

Motoyasu menatapku dengan pandangan merendahkan.
Sungguh lelucon.

“Baiklah…”

Motoyasu, aku akan mengajarimu bahwa pertarungan bukan hanya sekedar mengalahkan musuhmu.
Orang disekitar mulai berargumen, mengenai tulisan ‘kontradiksi’; Jika tombak terkuat dan perisai terkuat saling beradu, yang mana yang lebih kuat? itu adalah suatu tulisan yang menunjukan ketidakcocokan.
<TLN: ‘kontradiksi’ dalam jepang ditulis 矛盾, Yang mana merupakan gabungan dari kata 矛 ‘tombak / benda panjang yang runcing’ dan 盾 ‘perisai’.>
Bagaimanapun, tulisan ‘kontradiksi’ itu sendiri menurutku mengandung unsur ‘kontradiksi’.
Lalu, apa yang menandakan akhir pertandingan?
Sama seperti shogi dan go.
Sebagai contoh, jika kau dalam keadaan tangan kosong, apa yang akan kau lakukan?
Tombak adalah senjata yang digunakan untuk membunuh musuh.
Perisai adalah pelindung yang digunakan untuk melindungi pengguna.
Dengan kata lain, jika aku dapat menghentikan tombak terkuat, perisai menang.
Dari awal tujuan dibuat tombak dan perisai memang sangatlah berbeda.

“Fight!”
“Uoooooooo!”
“Deriyaaaaa!”

Aku berlari kearah Motoyasu dengan membawa tinjuku, sementara Motoyasu berlari dengan mengacungkan tombaknya dan bersiap menusukku.
Jarak antara kami mengecil dan, ketika aku berada dalam jangkauannya, Motoyasu menggenggam tombaknya dengan erat lalu menusuk kearahku.
Serangan yang bisa datang darimana saja, merupakan serangan yang tidak bisa ditangani.

“Chaos Strike!”

Tombak Motoyasu tiba-tiba berubah menjadi banyak.
Skill! keluar, menusuk kedepan dengan tiba-tiba.
Aku berhenti.
Sambil melindungi kepalaku aku bergerak mundur.
Gaingain*
Zushu*
Oof… Rasa sakit terasa pada salah satu bahuku.
Meskipun hanya goresan, kenyataannya serangan yang dikeluarkan hero sangatlah sulit untuk ditangani.
Namun, skill yang digunakan Motoyasu adalah skill ultimate, jadi dia mendapatkan cooldown yang lumayan lama.

“Terima ini!”

Motoyasu terus melayangkan tombaknya kearahku.
Kelemahan dari tombaknya, atau lebih tepatnya tombak kerajaannya adalah jangkauannya.
<TLN : Motyasu menggunakan tombak(spear) dalam bentuk tombak kerajaan(helberd), sehingga translatenya begitu>
Ketika musuh mencapai area menengah yang efektif bagi senjata jarak jauh, penggunaannya akan semakin sulit.
Umumnya ini sangat efektif untuk menyerang lawan sebelum mereka bisa mendekat. Namun bagiku, satu serangan tidaklah cukup untuk mengalahkan perisai.
Aku menghindari tusukan Motoyasu dengan jarak minimal, Melemparkan bebanku kedepan, dan menunduk.
Aku melayangkan pukulanku ke muka Motoyasu.

Gan!
Ch! mustahil bagiku untuk memberikan damage.
Namun, seranganku tidak berakhir disitu.
Motoyasu mengejekku, meremehkan pukulanku yang sama sekali tidak terasa sakit ataupun gatal.

Seberapa lama kau dapat mempertahankan muka itu?

Aku mengeluarkan senjata andalanku dari balik jubah dan melemparkannya kearah muka Motoyasu.
Chomp!*

“Ow!”

Karena aku menerima hujan api saat berada di gelombang sialan itu, aku membawa sesuatu yang bisa aku gunakan untuk mengancam mereka, saat menuju ke kastil.

“Ap?! Apa!?”

Kukuku… Motoyasu orang ini, suara kekacauan penuh kebingungan keluar.
Omnomnom*!

“Ow ow!”

Motoyasu menderita kesakitan saat mukanya tergigit.
Sepertinya, seranganku membuahkan hasil.
Untuk seseorang dengan julukan ahli balon, balon-balon itu sungguh mudah untuk digunakan sebagai senjata.

“Oraoraora!”

Dua balon di mukanya, sebuah balon dilemparkan ke bagian bawah Motoyasu, Motoyasu tertahan dan tidak bisa berdiri.

“Ke, kenapa balon?”

Teriakan penonton terdengar.
Namun mereka sudah mengetahuinya.
Aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk terus menerus memukul bersamaan dengan balon dan menendang tepat di antara kakinya.
“Guh… kau! melakukan ini!”
“Dengan tujuan memenangkan pertandingan ini, aku akan melakukan apapun! Sasarannya adalah muka yang memiliki kehidupan seperti gigolo, dan bukti seorang laki-laki, Bola! dengan muka dan bola mu dalam keadaan seperti itu, kau akan dikenang sebagai otaku yang menyedihkan!”
“Ap?! Hentikaaaaaan!”
“Tidak, tidak akan!”

Dengan keras aku terus-menerus menendang Motoyasu di bagian “bola”-nya.
Motoyasu, akhirnya melepaskan balon yang menggigit mukanya, dengan segera menggenggam tombaknya walaupun masih berbaring di tanah.
Karena balon yang berada di mukanya mulai terlepas, aku melemparkannya lagi balon yang lain sebagai pengganti.
Sementara itu, aku mengganggunya dengan cara apapun yang aku bisa.
Pada akhirnya aku akan kalah, jadi setidaknya aku akan membuat trauma yang mendalam kepada Motoyasu.

“Oraoraora!”
“Guh! Hal ini!”

Aku menggunakan seluruh tenagaku untuk menahan Motoyasu yang ingin berdiri dengan segala kekuatannya, dan serangan ganasku berlanjut.
Mwa-ha-haa!
Sungguh melegakan! Tangisan penderitaan!
Itu dia, senyum melegakan yang keluar bersama tawa.

“Gua…!”

Tiba-tiba sesuatu mendorongku dari belakang dan aku terjatuh.
Aku melihat kearah dimana sesuatu tadi mendorongku.
Disana, ada seorang wanita disana!
Mein menyelinap kearah keramaian dan memposisikan tangannya kearah arena ini.
Sepertinya itu adalah sihir angin.
Jika tidak salah, itu dinamakan ‘Wingblew’, sihir angin yang menembakan bola angin seukuran kepalan tangan.
Bola angin itu transparan, jika kau tidak memperhatikannya kau tidak akan bisa melihatnya.
Mein, senyum licik itu keluar dari mukanya, mengejekku sambil menarik kelopak matanya kebawah dan menjulurkan lidahnya.

“Kauuuu!”

Teriakan ku terhenti karena serangan balik dari Motoyasu yang berhasil berdiri karena bebannya hilang.
Aku terjatuh di tanah dengan Motoyasu berada di sebelahku, tombaknya tepat berada dileher. Semua balon sudah dihancurkan.

“Haa…. Haa…. ini adalah, kemenanganku!”

Dengan ekspresi seperti pada saat gelombang, Motoyasu mengacungkan tombaknya dan mendeklarasikan kemenangannya.




TL: LoliLover
EDITOR: Isekai-Chan