Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri tate-no-yuusha-no-nariagari-web-novel-bahasa-indonesia-chapter-11. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri tate-no-yuusha-no-nariagari-web-novel-bahasa-indonesia-chapter-11. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 September 2018

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 15. Perlakuan Pada Demi-Human

View Article
Chapter 15. Perlakuan Pada Demi-Human


Kita tidur hingga pagi tiba.
Saat siang hari, terjadi kecelakaan.
Kita sedang melawan Usapiru yang muncul didepan kita.

“Ah…”

Mata pisau yang digunakan oleh Raphtalia patah. *pokin*

“Perlihatkan padaku.”

Tidak ada pilihan lain. Pisau ini patah setelah melakukan pekerjaannya, setelah membunuh Usapiru yang menggigit tanganku.

“Maaf.”
“Tidak akan ada yang bertahan selamanya. Jadi suatu saat ini pasti akan terjadi.”

Ini adalah pisau yang murah, ditambah lagi pisau ini tidak pernah di asah.

“Kita akan berhenti disini sebelum kembali ke kota.”
“Baik.”

Tas yang dibawa Raphtalia sudah penuh dengan barang.
Sebagai tambahan, aku telah mencapai level 11, begitu juga dengan Raphtalia.
Selama perjalanan, kita menjumpai beberapa monster, namun kita berhasil mengatasinya dengan pisau cadanganku.
Setelah itu, kita menjual barang yang kita dapatkan, termasuk dengan obat yang aku racik. Total pendapatan menjadi 70 Silver.
Chari chari* <TLN : Suara koin>

“Apa yang harus kita beli disini.”
“Apa maksudmu pisau?”

Raphtalia berbicara sambil memakan makanannya di dalam kios jalanan.
Kita harus bisa mengurangi biaya hidup kita dengan berkemah diluar.
Dan tidak akan masalah untuk makanan, apabila kita bisa mendapatkan Usapiru.
Aku berhenti berpikir tentang itu.
Karena aku tidak memiliki toko favorit dan tidak mengetahui toko bagus lainnya, Setidaknya aku ingin mengetahui detail dari perlengkapan yang akan aku beli.

“Baiklah, sepertinya kita harus pergi ke toko senjata.”
“Un.”

Guu…*
Aku mendengar suara gemuruh dari belakang ku.

“Perutku lapar.”
“Bukankah kau baru makan?”

Apakah ini yang dinamakan pertumbuhan?
Seberapa banyak kau makan dalam sehari?

“Haa…”

Benar, Hukum Engel akan terus meningkat sesuai dengan pencapaiannya.
Kita perlu mulai berburu lagi secepat mungkin. Jika terus begini, biaya makan kita akan membawa kita kedalam masalah.

___________________

“-- dan itulah yang terjadi pak tua. Aku memerlukan senjata dan perlengkapan pelindung dengan harga sekitar 65 Silver, ditambah dengan pisau murah.”

Entah mengapa, Pak tua meletakan tangannya di kepala kemudian menghela nafas.

“Yah… ini bukan masalahku, tapi paling tidak rawatlah peralatanmu”
“Maaf. Aku kira kain yang digunakan untuk membersihkan darah sudah cukup, sehingga aku tidak memikirkan itu sebelumnya.”

Benar, Balon, Jamur, dan Telur merupakan makhluk yang terbuat dari bahan non-organik. Dan…
Cairan yang berasal dari telur dapat dibersihkan dengan mudah.
Bagaimanapun, Darah dari Usapiru telah menodai senjata.
Tidak hanya itu, sepertinya pisaunya menjadi cepat memburuk akibat tidak dirawat.

“Namun, aku kagum hanya dalam tiga hari penampilan gadis ini sudah membaik. Dan bukankah kau menjadi cantik?”

Raphtalia mengangguk dengan senyuman. Sebenarnya apa yang dikatakan pak tua ini?

“Hoh? ekspresi yang bagus.”
“Un!”

Baiklah, kembali ke bisnis.

“Pak tua, tolong prioritaskan ketahanan senjata ketika kau memperlihatkan senjata yang kau tujukan kepadanya”
“Dan bagaimana denganmu?”
“Aku tidak memerlukannya”
“Kau tidak menginginkan apapun?”

Raphtalia melihatku dan bertanya.

“Apa aku terlihat membutuhkan perlengkapan?”

Hingga sekarang aku belum pernah menerima satu luka dari serangan monster.
Bukankah para Hero kurang ajar itu mengatakan “Perisai mudah diawal, dan buruk pada akhirnya”
Itulah mengapa aku merasa tidak membutuhkannya hingga aku menerima damage.

“Uun.”

Raphtalia menghela nafas. terlihat tidak yakin. Tangannya memegang bola yang aku berikan kepadanya dulu.

“Baiklah, ini mungkin kesialanku. Aku akan memberikan sedikit bonus.”
“Aku akan menawar bila harganya terlalu tinggi.”
“Aku telah memberikan harga yang sangat murah disini. Atau kau akan melemparku dengan balon itu ketika kau berada di ujung tanduk?”

Insiden pedagang yang dulu sepertinya mulai menyebar. Baiklah tidak apa, karena akhirnya akan sama saja.

“Mata dibayar mata, itulah yang aku lakukan.”
“... Tidak itu tidak masalah. namun ketika aku memberikan balasan kau pasti akan mencari rencana lain. Itulah kebiasaanmu kan?”
“Kau sangat mengetahui sifatku.”
“Semuanya dapat mengetahuinya dengan sekali pandang. Bahawa kau, adalah pengusaha ulung dalam kedok Hero.”
“Aku akan menganggap itu sebagai pujian.”
“Terserah…”

Pak tua meraba dagunya sambil melihat Raphtalia.

“Sepertinya gadis ini akan lebih cocok dengan pedang dari pada pisau.”
“Apa itu benar?”
“Sepertinya dia sangat antusias dengan hal itu. Pedang juga merupakan senjata yang cocok untuk pemula, kan?”

Pak tua mencarinya di pojokan tokonya. *Gacha gacha.

“Ini dia.”
“Aku akan menggunakan pedang ini?”
“Sepertinya.”
“Aku akan melatihnya untuk menggunakannya.”

Kemudian pelindung dada berwarna coklat yang dia bawa dari belakang.

“Sebuah pedang besi dan pelindung dada terbuat dari kulit. Walaupun itu semua merupakan barang tua, harap maklum. Setidaknya ukurannya pas untukmu.”

Pak tua memberikan pedang pendeknya ketika dia sedang memakai pelindung dadanya.
Guu…* <TLN : Bunyi perut lapar>

“Lagi!?”
“Hmm, dia adalah demi-human kan? Karena dia masih kecil sesuatu seperti ini sering terjadi karena dia sering level up.”

Tunggu, apa? Apa itu adalah pengetahuan umum disini? Dunia ini bekerja dengan standar yang aneh yang tidak dapat aku bayangkan.
Beberapa waktu yang lalu, aku mendengar kisah tentang Hina si gagak, dimana dia akan mati jika dia tidak makan secara terus menerus.

“Jadi cerita itu ada benarnya… yah bagaimana lagi. Tinggal disini dan patuhi sang pengajar, aku akan memberikanmu makanan ketika kau berlatih.”
“Baik!”

Melihat percakapan kami, pak tua tertawa dengan keras. *gahaha

“Ok dengar, aku akan mengajarimu semua dasarnya--”

Aku meninggalkan toko senjata dan pergi ke pasar.
Demi-human merupakan ras yang aneh, menggunakan rasa lapar sebagai pengimbang level up.
Meskipun kondisinya berkembang dengan baik dan kesadarannya juga berangsur-angsur menjadi kuat.
Namun tetap saja, biaya makanannya itu yang bermasalah.
Untuk mempersingkat cerita, aku membeli makanan dari suatu kios dan kembali untuk melihat pak tua yang mengajari Raphtalia cara menggunakan pedang.

“Ini.”
“Terimakasih!”

Dia melahapnya ketika pak tua mengajarinya cara menghindar.
Meskipun dalam situasi seperti ini, suasana hatinya tidak berubah sedikitpun.

“Bagaimana dengan mu?”
“Aku mengingat gerakan menghindar itu.”
“Yah, kau adalah tipe yang menangkis serangan. Akan berbahaya bagimu jika kau kehilangan keseimbanganmu.”

Itu merupakan akhir dari pengajaran yang diberikan oleh pak tua, kemudian aku memberikan bayarannya.
Setelah itu, pak tua memberikan lempengan kecil berwarna putih.

“Apa ini?”
“Batu asahan. ‘kain lap’ tidak akan berguna pada senjata kali ini. Jadi itu akan rusak dengan segera jika kau tidak secara terus menerus merawatnya.”
“Hmm.”

Perisai ini bereaksi ketika aku memegang batu asahan itu.
dan kemudian berakhir dengan terhisap kedalamnya.

“H-Hey!?”


[Perisai batu asahan telah terbuka]


Oh? ini adalah pertamakalinya perisai ini tidak berbahasa Inggirs.
<TLN : Sepertinya di webnovel yang asli bahasanya bukan inggirs, karena ini aku tl dari inggris jadi aku kurang tahu, tapi akan aku cek suatu saat>
Baiklah terserah, ini masih merupakan perisai.
Aku harus lebih banyak menyerap bahan mulai sekarang……
Ah begitu, ini bukanlah perisai yang berasal dari cabang baru, namun ini merupakan kombinasi dari Perisai telur biru langit dan Perisa daging Usa.
Apakah ini karena batu asahan sangat diperlukan untuk keperluan dapur seperti pisau?
Kekuatan pertahanan dari perisai telur sangatlah menakjubkan.
Sepertinya aku akan mendapatkan ‘Perisai Usapiru’ jika aku tidak memotongnya melainkan menyerap secara utuh Usapiru tersebut.


[Perisai batu asahan]
[Bonus Pemakaian : Identifikasi mineral +1 <Belum dikuasai>]
[Efek Spesial : Otomatis mengasah (8 jam), Konsumsi tinggi]


Efek spesial?
Aku menekan tombol ‘help’


[Efek Spesial]
[Sebuah efek khusus yang akan dapat digunakan ketika menggunakan senjata yang spesifik]
[Efek nya tidak akan bisa digunakan oleh senjata lain walaupun kekuatannya telah terbuka]
[Karena itu, suatu senjata harus dimasukan kedalam lubang yang ada agar mendapatkan efeknya]


Jadi seperti itu?
Suatu efek yang memberikan kemampuan luar biasa seperti game ○○

Dengan segera aku mengganti perisaiku.

“Huh!? Apa itu?”

Perisai batu asah, ini terlihat seperti perisai kecil namun dalam ukuran yang besar. Perisai besar yang terbuat dari batu asahan.
Tapi ada lubang berpola yang berada di bagian atas perisai, dengan beberapa bentuk lubang. Beberapa memiliki ketebalan yang tebal dan yang lain tipis.

“Kau, katakan apa yang sedang terjadi.”

Fumu… apa maksud sebenarnya dari otomatis mengasah (8 jam), konsumsi tinggi?
Meskipun, aku berharap ini akan bekerja sesuai apa yang telah dideskripsikan…

“Hey!”
“Huh? Ada apa pak tua?”
“Sebenarnya itu perisai apa?”
“Bukankah kau sudah tahu? ini adalah perisai legendaris.”
“Aku tidak pernah melihat ataupun mendengar tentang hal ini!”
“Kau telah melihatnya bukan, ini adalah perisai kecil yang sama dengan yang dulu.”
“Huh!? jadi kenapa bentuknya berubah menjadi batu asahan?”
“Sepertinya karena perisai ini telah menghisap batu asahan?”
“...”

Jika terus begini, pak tua tidak akan bisa lagi memahami situasi nantinya.

“Kau pasti pernah mendengar bahwa senjata legendaris memiliki kemampuan misterius. ini adalah salah satu kemampuan itu.”
“... Kau tidak mendengar ini dari hero yang lain?”
“Aku tidak melihat mereka belakangan ini. Kau adalah orang yang pertama kali mengubah senjata mu di depanku.”

Musuh alami kami akan muncul sekitar satu minggu. Jadi bukankah mereka seharusnya saling memberitahu tentang apa yang mereka tahu, walaupun hanya sedikit? Sepertinya orang-orang itu terlalu egois hingga tidak mau saling membantu sesama teman seperjuangan.
Aku juga tidak punya kepercayaan terhadap orang orang seperti itu juga.

… Namun, itu mungkin tidak perlu bagi mereka. karena mereka tidak berada di keaadaan buruk sepertiku.

“Jadi, apa yang kau lakukan?”
“Haha, sepertinya ini memiliki efek ‘otomatis mengasah (8 jam), konsumsi tinggi’. Tapi aku tidak tahu apakah benar-benar mungkin untuk mengasah tanpa menggunakan apapun.”

Aku tidak tahu apa yang akan perlu dikonsumsi.

“Fuumuu...”

Pak tua mengambil salah satu pedang yang sudah berkarat dan tertarik untuk meletakannya ke dalam salah satu lubang yang berada di perisaiku.

“Aku akan memberikan pedang ini sebagai bonus. Gunakan ini dan lihat apa yang terjadi.”
“Ooh, Terimakasih.”

Ada sebuah ikon yang muncul di pojok layarku: [Polishing]
Ada banyak tombol.
Kemudian, aku merasakan beban di pundakku.
Aku dengan segera membuka layar statusku. Disana, aku melihat ‘Skill Point (SP)’ ku bertahap mulai berkurang.
Sebelumnya aku pikir akan ada sesuatu bersifat fisik yang akan dikonsumsi, namun sepertinya perisai ini dapat digunakan dengan cara seperti ini juga.

“Baiklah, sepertinya kita harus pergi sekarang.”
“Kita pergi?”
“Haha.”

Keluar dari toko senjata, aku terus mengusap kepala Raphtalia untuk beberapa saat.
Jadi sekarang, dengan tujuan untuk meningkatkan level dan mendapatkan makanan untuk Raphtalia yang sedang tumbuh kembang, aku perlu melanjutkan petualangan.

“Oh ya, pak tua.”

sambil menatapku, pak tua mengeluarkan ekspresi jengkel.

“... Kau masih membutuhkan sesuatu?”
“Apa kau mengetahui dungeon yang berada di dekat desa hutan?”

Aku menanyakan hal itu sambil membuka map dan menunjukkan tempat yang sebelumnya direkomendasikan oleh jalang itu.
Aku ingin tahu rekomendasi dari orang lain untuk berjaga-jaga. Walaupun mempercayai mereka adalah suatu masalah.

“Monster yang muncul berbeda dengan yang berada di hutan. Aku dengar ada beberapa yang mirip dengan yang muncul di jalan desa.”
“Begitu, sepertinya kami akan memeriksanya sendiri ketika sampai disana.”

Sekarang, kita harus mengevolusi perisai ku dan mendapatkan uang sebanyak mungkin sebelum gelombang datang.




TL: LoliLover
EDITOR: Isekai-Chan

Sabtu, 12 Januari 2019

Tate no Yuusha no Nariagari Web Novel Bahasa Indonesia : Chapter 18. Jam Pasir Berukiran Naga

View Article
Chapter 18. Jam Pasir Berukiran Naga


Esok harinya, kami datang ke toko senjata.

“Wah, bukankah itu adalah si bocah.”
“Bagaimana dengan pesanan kami?”
“Selesai! aku telah menyelesaikannya beberapa saat yang lalu.”

Pak tua berbicara sambil mengeluarkan armor dari belakang.
Yang keluar adalah satu set armor yang terlihat kasar, armor itu terkesan kasar.
Kulit Usapiru digunakan sebagai pelapis bagian leher, dimana bagian dadanya terlindungi dengan piringan besi.
Bagian sendi tidak disambung dengan metal, namun dengan kulit landak. Saat memasukan tanganku kedalamnya, aku dapat merasakan bahwa di antara kulit baju itu penuh dengan bulu Pikyupikyu.

“... Aku akan mengenakan ini?”

Bagaiamana ya, aku pikir ini terlihat seperti armor yang digunakan oleh ketua perampok.
Apa yang mereka pikirkan saat menyebutnya ‘Armor Barbar’? Aku akan terlihat seperti preman di tahun 90’ an jika aku menggunakannya.

“Ada apa bocah?”
“Tidak, aku hanya berpikir bahwa armor ini terlihat seperti armor milik penjahat.”
“Apa yang kau bicarakan?”

Huh?

“Apa kau mengatakan bahwa aku memang adalah penjahat?”

Aku memang memilih cara paling efisien dalam membuat uang, namin itu tidak membuat-ku menjadi penjahat kan?

“Pasti cocok dipakai Naofumi-sama!”
“Raphtalia… kau--”

Bukankah itu sama saja membuatku menjadi salah satu dari mereka?

“Intinya coba gunakan saja dulu.”
“Urg… Aku ingin menghindarinya jika bisa… namun tidak ada pilihan lain karena kita bekerja keras untuk membuat armor ini.”

Aku segera berganti setelah memasuki ruang ganti.
… Aku bahkan tidak bisa berkata lagi, ukurannya sangat lah pas dengan ukuran ku.
Ini adalah salah satu benda yang hanya bisa dibuat oleh pak tua, sang pemilik yang sudah mengenal senjata dan armor. Dia dapat mengetahui ukuran ku hanya dengan melihatnya.
Aku keluar dari ruang ganti dan menunjukan hasilnya kepada Raphtalia dan Pak tua.

“Fumu… mukamu memang tidaklah mengeluarkan kesan barbar, namun aku dapat melihat sedikit kejahatan dalam matamu.”
“Hah? apa kau mengatakan bahwa aku memiliki mata yang buruk?”
“Bocah, kau memang sangat cepat dalam menyadari sesuatu.”

Sialan, apa yang dia maksud sebenarnya?

“Naofumi-sama, itu sangat cocok untukmu dan kau terlihat KEREN!”

Raphtalia berbicara ke arahku dengan senyuman.
Aku menatap Raphtalia sambil terdiam.
Menggunakan tatapan penuh luka…

… Itu adalah niatku dari awal.

Sebenarnya dia tumbuh di lingkungan hidup seperti apa?
Ah, aku lupa, Raphtalia adalah demi-human. Mungkin karena dia memiliki pandangan seni yang beda denganku.
Aku mengkonfirmasi bahwa ketahanan armor ini lebih kuat dari Chain Mail, atau bahkan sedikit lebih tinggi.
Pak tua berkedip ke arahku. Jadi ini adalah bonus untuk kami, itu adalah pelayanan yang baik.

“Haa… Terimakasih.”

Berbicara jujur seperti ini bukanlah hobi ku, namun aku tidak dapat melakukan hal lain karena aku harus bersiap untuk gelombang yang akan datang.
Aku meyakinkan diriku dengan alasan itu.

“Sekarang, apa yang akan kita lakukan?”
“Kau mengingatkanku, suasana kota terasa lebih tegang belakangan ini.”
“Mungkin gelombangnya sebentar lagi akan datang, namun dimana dan kapan?”
“Huh? Tidak ada yang memberitahumu?”
“Tentang apa?”

Informasi yang pak tua tahu dan aku tidak… itu pasti adalah tentang suatu tindakan untuk melawan gelombang. Diam-diam aku mengutuk ‘mereka’ sambil mendengarkan pak tua berbicara.

“Kau telah melihat menara jam yang terkenal di alun-alun kan?”
“Ya, hanya sekilas. Aku biasanya ber-oprasi di pinggiran kota.”
“Jam pasir berukir naga terdapat di dalam bangunan itu. Saat pasir terakhir dari jam itu jatuh, para hero dan pengikutnya akan di teleportasi ke tempat dimana gelombang itu datang.”
“Oh…?”

Tidak salah lagi… raja sialan itu pasti telah memberi tahu berita gembira ini kepada hero lainnya dan pengikutnya.

“Jika kau tidak tahu kapan gelombang akan datang, mengapa kau tidak kesana dan melihatnya?”
“Sepertinya begitu.”

Ini akan menyulitkanku jika aku tidak tahu kapan aku akan di teleportasi.
Aku berencana singgah disana sebagai penghibur.

“Baiklah, pak tua.”
“kalau begitu, sampai jumpa.”
“sampai jumpa.”

Kami mengucapkan salam perpisahan dan pergi menuju menara.
Di daerah kota, menara jam itu adalah bangunan yang paling tinggi. Mungkin tingginya hampir setara dengan bangunan modern.
Entah mengapa, atap dari menara itu berbentuk seperti kubah gereja.
Sepertinya tidak ada biaya masuk, pintu gerbang terbuka lebar dan ada orang yang mondar-mandir.
Ada wanita dengan pakaian seperti biarawati menatapku dengan tatapan curiga. Dia sepertinya mengenali wajahku.

“Kau adalah hero perisai, bukan?”
“Haha, seperti yang kau lihat, aku ada disini karena batas waktu sudah dekat.”
“Kalau begitu, mohon ikuti saya.”

Aku dipandu menuju jam pasir yang berada di tengah gereja.
Jam pasir besar yang kira-kira berukuran 7 meter.
Lengkap dengan dekorasi dan aura suci.

… Apa ini? tulang punggungku terasa gatal, terasa seperti ada aliran listrik yang masuk.
Hanya dengan melihatnya, terasa sensasi mengalir di dalam tubuhku.
Warna dari pasirnya adalah…. merah.
Aku mengalihkan pandangaku ke arah pasir yang berjatuhan.
Aku paham apa yang akan terjadi ketika pasir terakhir telah terjatuh.
Perisaiku mengeluarkan suara “piin*” bersamaan dengan sebuah laser yang menghubungkan permata di perisaiku dengan pusat dari jam pasir itu.
Kemudian jam digital muncul di pandanganku.


[20:12]


Tidak lama angka 12 berubah menjadi 11.
Begitu, jadi jam pasir diterjemahkan menjadi sesuatu yang bisa aku pahami.
Dengan ini aku bisa bergerak dengan tepat.
Bagaimanapun… hal yang bisa aku lakukan dalam waktu 20 jam sangatlah sedikit. Hal yang perlu dilakukan adalah mendapatkan tanaman herbal sebanyak-banyaknya dan menyiapkan obat penyembuh.

“Huh? bukankah itu Naofumi?”

Suara menjijikan yang tidak aku sukai terdengar di dalam ruangan.
Berjalan bersama haremnya, Hero tombak dengan santai berjalan ke arahku.
Sungguh sial, aku sangat ingin menghajarnya. Namun mempertimbangkan waktu dan tempatnya, jadi aku mengendalikan diriku.

“Apa kau datang kesini untuk persiapan melawan gelombang?”

Dengan tatapan yang aneh, dia melihatku dari atas hingga bawah.

“Apa-apaan itu. apa kau berniat bertarung dengan perlengkapan seperti itu?”

Memang kenapa?
Menurutmu karena siapa aku menjadi seperti ini? Kau dan wanita jalang dibelakangmu.
Perlengkapan motoyasu berbeda dari yang dulu, hanya dengan sekali lihat aku dapat mengetahui levelnya.
Itu tidak terbuat dari besi, namun armor mengkilat yang terbuat dari silver. dia menggunakan pakaian tambahan yang memancarkan warna hijau, sepertinya benda itu memiliki efek tambahan. Tidak hanya itu, disana terdapat lapisan Chain Mail yang berada di antaranya. Terlihat seperti Motoyasu sangat memperhatikan pertahanannya.
Senjata legendarisnya juga tidak berada pada bentuk biasannya. Dan sangat menjengkelkan untuk mengakuinya, namun desain tombaknya sangat sederhana dan keren.

“...”

Berbicara dengan orang ini sungguh menjengkelkan.
Aku membalikan punggung ke arah motoyasu dan menghiraukannya sambil berjalan ke arah pintu masuk.

“Ada apa denganmu?, Motoyasu-sama berbicara denganmu! Buka telingamu dan perhatikan dia.”

Wanita jalang penggemar Motoyasu berbicara sambil menatapku dengan penuh penghinaan dan rasa haus darah.
Setelah itu muncul ejekan. Mereka mulai memprovokasiku dengan dengan ejekan dari lidahnya itu.
Wanita jalang ini, aku akan membunuhnya suatu saat.

“Naofumi-sama? Siapa orang-orang itu..?”

Raphtalia menyondongkan kepalanya dan menunjuk ke arah Motoyasu.

“...”

Aku mencoba berjalan menjauh, karena itu adalah keputusan yang terbaik daripada menjawabnya.
Di saat yang sama, Itsuki datang dari gerbang masuk.

“Tsk.”
“Oh, Motoyasu-san dan… Naofumi-san”

Itsuki terlihat tidak senang saat aku mendecikan lidahku ke arahnya, namun fitur ‘anak baik’-nya sebentar lagi akan aktif.

“...”

Ren juga datang dan berjalan tanpa berbicara apapun, dengan tujuan agar terlihat keren. Perlengkapannya jelas terlihat lebih kuat dari pertama kali dia memulainya.
Dan, kedua pengikutnya muncul setelahnya.
Populasi dalam menara langsung meningkat.
4+12+1
Kita, keempat hero yang dipanggil, bersama dengan 12 petualang yang mendampinginya, dan terakhir adalah Raphtalia.
Total jumlahnya adalah 17 orang, Jumlah yang mengecewakan untuk pasukan penangkal bencana.

“Haa…”
“Siapa gadis cantik ini? Dia terlihat sangat menawan.”

Motoyasu menunjuk Raphtalia dan berbicara.
Orang ini, dia mau dengan siapa saja asalkan dia perempuan?
Ternyata seorang hero juga mengincar anak kecil… Kota ini sudah tidak ada harapan.
Ditambah lagi, dia mendekati Raphtalia dengan motif kotor, memperkenalkan diri dengan lemah lembut.

“Senang bertemu dengamu, nona muda. Aku adalah salah satu dari keempat hero yang dipanggil ke dunia ini. Silahkan panggil diriku dengan namaku, Kitamura Motoyasu. Aku merasa terhormat bisa berkenalan dengamu.”
“Ah, ya… jadi kau adalah salah satu hero.”

Raphtalia mengangguk dengan perlahan sambil menghindari tatapannya.

“Bolehkah aku mengetahui namamu?”
“Umm…”

Raphtalia yang terlihat bermasalah, melihat ke arahku lalu kembali melihat ke arah Motoyasu.

“Aku Raphtalia, senang berkenalan denganmu.”

Dia sepertinya sadar bahwa aku merasa terganggu. Aku mengetahuinya dari keringat dingin yang berada di wajahnya.
Perempuan ini juga ingin menyingkirkanku dan bergabung dengan kelompok Motoyasu?
Sialan, aku sedang mencoba membuat sesuatu lebih damai, lalu mengapa mereka semua masih saja menggangguku?

“Apa urusanmu disini, nona? Dengan tujuan apa kau membawa pedang dan mengenakan perlengkapan itu?”
“Aku disini untuk bertarung bersama Naofumi-sama.”
“Hah? Naofumi?”

Motoyasu berbalik kearahku dan melihatku dengan tatapan penuh curiga.

“... Apa yang kau lihat?”
“Kau iblis, kenapa kau membawa gadis cantik seperti ini ke tempat yang berbahaya?”

Motoyasu berbicara sambil menatap rendah ke arahku.

“Aku tidak perlu mengatakan alasannya.”
“Dan, aku pikir kau akan menangani ini sendirian… namun ternyata kau menggunakan kebaikan Raphtalia pada akhirnya.”
“Dasar tukang halusinasi.”

Kata-kata itu keluar dari mulut sialan itu, orang yang lebih mempercayai wanita jalang terburuk di dunia lain dari pada teman hero nya, sungguh sangat membuatku muak.
Aku berjalan ke arah Itsuki dan Ren untuk keluar.
Mereka dan pengikut mereka yang bahagia membukakan jalan untukku.

“Mari bertemu kembali saat gelombang tiba.”
“Jangan menghambat kami.”

Aku berjalan melewati mereka, saat itu Itsuki memberikan respon yang profesional, sementara Ren memberikan respon tidak sopan, seperti dia hanyalah satu-satunya hero.
Terkejut dengan sikapku yang tiba-tiba, Raphtalia dengan segera menuju ke sisiku sambil mengamati sekitar.

“Aku pergi.”
“Ah, baik! Naofumi-sama.”

Setelah mendengar suaraku, dia kembali ke sikapnya yang energik.
Ya ampun, itu tadi sungguh tidak menyenangkan.
Keluar dari pintu masuk menara, aku segera pergi menuju padang rumput melalui kota, setiap detik rasa frustasi semakin bertambah.

“Um, Naofumi-sama? Ada apa denganmu?”
“Tidak ada….”
“Tad…”
“Apa?”
“Tidak apa…”

Merasakan suasana hatiku yang buruk, Raphtalia mengikutiku dengan suasana sedih.
… kemudian balon liar muncul.
Dengan segera, Raphtalia mengeluarkan pedangnya.

“Tunggu, biarkan aku menangani ini sendirian.”
“Eh… tap--”
“Biarkan saja!.”

Raphtalia kaget dengan teriakkanku yang tiba-tiba.
Balon itu mendekatiku.

“Ora ora ora ora!”

Sial! sial! sial! sial! sial! sial!
Mengalihkan pikiranku dengan menghajar balon, setelah itu aku baru dapat tenang.
Aku men-cek sisa waktu dari pojokkan pandanganku.


[18.01]


18 Jam lagi.
Aku perlu melakukan apa yang perlu hingga waktu tiba.
Setelah itu, aku pergi berburu balon dan mengumpulkan tanaman herbal.
Tanaman itu masih perlu diproses agar menjadi obat yang dapat digunakan saat gelombang muncul.
Ketika malam tiba… setelah kembali ke penginapan untuk beristirahat, dengan lembut Raphtalia berbicara padaku.

“Naofumi-sama.”
“... Apa?”
“Pagi tadi, orang-orang itu adalah hero seperti Naofumi-sama kan?”
“... Urg.”

Dia mengingatkanku dengan sesuatu buruk.
Setelah aku melupakan apa yang barusan terjadi.

“Apa… yang terjadi diantara para hero?”
“Aku tidak ingin membahasnya. Jika kau ingin mengetahuinya pergi ke bar dan tanya sekitarmu.”

Tidak ada yang mempercayaiku ketika aku memberitahu kebenarannya. Gadis ini juga kemungkinan sama saja dengan yang lainnya.
Bagaimanapun, perbedaan Raphtalia dan yang lainnya adalah, dia adalah budakku.
Jika dia menolak perintahku, mencoba untuk lari, atau memberontak kepadaku, dia akan tersiksa oleh segelnya.
Memikirkan yang terbaik, Raphtalia tidak memaksa karena aku juga tidak ingin menceritakannya.
Bersiap untuk besok, aku membuat banyak obat hingga aku mengantuk. aku terus membuatnya dalam waktu yang sangat lama.




TL: LoliLover
EDITOR: Isekai-Chan