Tampilkan postingan dengan label BAHASA INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BAHASA INDONESIA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Juli 2018

Urutan Kejadian Dongeng - Semut Dan Beruang

View Article

Air sangat diharapkan bagi kelangsungan hidup di bumi. Semua makhluk hidup membutuhkan air. Banyak cara dilakukan untuk memenuhi kebutuhan akan air. Bacalah kisah ihwal air berikut.


Semut dan Beruang

Pada suatu hari, Beri si Beruang melihat ke dalam mata air. Beri mengeluh, 

 “Sepertinya air di mata air ini semakin sedikit saja. Pasti bangsa semut terlalu banyak mengambil air!” Beri kemudian menundukkan kepala, melihat ke tanah dengan teliti. Ah, ia melihat seekor semut hitam berjalan membawa guci mungil di pundak. 

“Berhenti, semut!” teriaknya. “Aku tak akan membiarkanmu mengambil air di sumber airku lagi. Kamu sudah terlalu banyak mengambil air.  Berhenti atau kucakar kau!” ancam Beri Beruang.  

Semut hitam kecil itu tidak memperhatikan teriakan Beri. Ia merangkak ke bawah beberapa helai daun kering. Ia terus berjalan menuju sumber mata air. Beri mencakar dan mengendus daun-daun sambil berteriak, “Tak ada gunanya sembunyi! Aku sanggup menemukanmu!” 

Semut hitam berteriak dari arah belakang Beri, “Kenapa kau pelit sekali? 

 Bayi-bayi semut di lembah semut sangat kehausan. Air di mata air ini kan masih banyak sekali. Bahkan masih cukup untuk seribu rusa.” 

“Dengar kataku!” geram Beri sambil membalik tubuhnya. “Aku tak akan memberikanmu air lagi. Semua semut tidak boleh mengambil air di sini lagi!” 

Semut Hitam termangu sebentar. Lalu katanya, “Apa boleh buat, bila kau sudah memutuskan begitu! Tapi saya tetap akan mengambil air untuk bayi-bayi semut di lembah!” 

Beri beruang sangat marah. Namun, Semut Hitam sudah menghilang lagi ke bawah daun-daun kering. Beri mencarinya, tetapi ia tidak melihat apa-apa di rumput. Akhirnya ia kembali dengan jengkel ke sarangnya di erat pohon oak. 

Semut-semut yang haus menunggu  di lembah semut. Setelah menunggu cukup lama, alhasil mereka berbaris menuju mata air. Salah satu semut melihat guci air milik Semut Hitam yang tergeletak di jalan. 

“Pasti Semut Hitam mendapat masalah. Lihatlah! Ini gucinya, tapi ia tidak tampak!” Mereka memungut guci itu dan terus berjalan. 

Saat itu seekor kelinci mengintip dari balik semak. Kelinci itu mengangkat telinganya dan berbisik, “Jangan pergi ke mata air itu. Pulanglah, kalian dalam bahaya. Beri sedang marah. Ia bilang, air di mata airnya berkurang. Ia akan mencakar semut-semut yang berani mengambil air dari mata airnya!” Akan tetapi semut-semut itu tidak takut. “Mana beruang itu sekarang?” tanya mereka. “Ia sedang di rumahnya beristirahat,” jawab Kelinci. 

Semut-semut itu berbaris menyerupai tali sepatu di rumput. Mereka melihat seekor bajing duduk di pohon dan bertanya, “Apa kami sedang berjalan sempurna ke arah sarang beruang?” “Ya, ya, ini memang jalan ke arah sarangnya,” jawab Tupai. “Tapi sebaiknya kalian balik ke rumah. Beri beruang dari tadi berteriak terus. Katanya, bila kalian mengambil air dari mata airnya, ia akan mencakar kalian.” Akan tetapi semut-semut itu tak mau kembali. Mereka terus berbaris menyerupai tali sepatu di tanah. Hari hampir malam saat mereka datang di depan pohon oak tua. Mereka melihat sekeliling, dan menemukan sebuah retakan di tanah. Mereka masuk ke dalamnya, dan mulai menggali sebuah lubang.  “

“Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian menggali?” tanya Tikus Tanah yang merasa terganggu dari tidurnya. “Kami ingin menangkap Beri beruang. Kami sedang menciptakan jebakan untuknya,” kata para semut. “Bahaya sekali!” seru Tikus Tanah. “Dia niscaya sudah menangkap Semut Hitam saudara kami. Ia juga berniat mencakar kami, hanya sebab kami mengambil air dari mata air!” kata semutsemut. “Aku akan menolong kalian menggali di bawah sarangnya. Aku pernah hampir tertangkap ia dahulu.” Seharian itu, para semut dan Tikus Tanah menggali lubang di bawah sarang Beri. Mereka terus menggali selama sepuluh hari. Beri beruang sama sekali tidak curiga.  

Suatu malam di hari kesepuluh, Beri beruang kembali ke sarangnya dengan hati gembira. Ia berhenti di depan rumahnya di pohon oak dan berkata pada dirinya, “Aku sudah makan dan minum hingga kenyang. Satu-satunya yang bikin saya jengkel ialah semut-semut itu. Mereka masih berani mengambil air dari mata airku! Besok akan saya hancurkan lembah semut itu! Akan kucakar mereka dengan cakarku menyerupai ini…” Beri beruang mulai mencakar ke segala arah. Ia menghentakkan kakinya ke lantai sarangnya dan…  BRRUUKK…  

Lantai sarangnya jebol. Beri beruang jatuh ke lubang di bawah sarangnya. Lubang itulah yang telah digali para semut dan Tikus Tanah. Beri Beruang harus terus tinggal di lubang itu, kecuali ada penjaga hutan yang menemukannya. Semut-semut itu akhirnya  hidup tenang di lembah semut. Saat itu Semut Hitam saudara mereka juga sudah kembali ke rumah.  Ternyata ia hanya terpeleset di jalan. Makara tidak ada yang merusak kebahagiaan mereka sekarang. Para semut dengan bebas pergi mencari makan dan minum di hutan.


(Sumber: Buku Siswa Kelas V SD yang diambil dari - bobo.kidnesia.com) 


Jelaskan tragedi pada kisah “Semut dan Beruang” dengan bahasamu sendiri. Tulislah dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Perhatikan penggunaan kata-kata baku. Perhatikan pula penggunaan tanda baca yang benar. Tulislah dalam kotak berikut, kemudian bacalah di depan teman-teman dan Bapak/Ibu Guru.

Air sangat diharapkan bagi kelangsungan hidup di bumi Urutan tragedi kisah - Semut dan Beruang

Urutan tragedi pada kisah “Semut dan Beruang”

Beruang melihat semut berjalan mengambil air, beruang mengancam semut yang sedang berjalan akan tetapi semut tidakmengetahui ancaman tersebut. Berunag mencari keberadaan semut, akan tetapi semut tidak ditemukan dan alhasil kembali kesarangnya dengan rasa jengkel.

Salah satu semut melihat guci milik si semut hitam yang tergeletak di jala, Karena melihat guci tersebut segerombolan semut yang mengantri meuju mata air, menganggap semut hitam sedang mendapat masalah.

kelinci melarang semut supaya tidak pergi ke mata air itu. Akan tetapi semut-semut itu tidak takut dan  pergi menuju sarang Beruang. Semut-semut itu berbaris menyerupai tali sepatu di rumput menuju sarang Beruang.

Di tengah jalan seekor bajing mengingatkan Semut semoga tidak ke rumah Beruang yang sedang marah. Semut-semut itu tak mau kembali dan terus berjalan. Sampai di depan pohon oak renta mereka menggali sebuah lubang. Seekor tikus tanah yang juga pernah diancam Beruang membantu Semut menggali jebakan.

Suatu malam Beri Beruang murka dan menghentakkan kakinya ke lantai sarangnya. Lantai sarangnya jebol dan jatuh ke lubang di bawah sarangnya.


Semut-semut itu alhasil hidup tenang di lembah semut. Semut Hitam saudara mereka juga sudah kembali ke rumah. Ternyata ia hanya terpeleset di jalan. Para semut dengan bebas pergi mencari makan dan minum di hutan.


Sumber https://www.gurune.net/

Kamis, 22 Maret 2018

Menghargai Jasa Para Pahlawan

View Article

Bangsa  yang besar ialah bangsa yang sanggup menghargai jasa para pahlawan. Pepatah itu mengingatkan kita untuk selalu menghargai jasa para pahlawan. Para satria telah berjuang dengan mengorbankan harta, benda, jiwa, bahkan nyawanya untuk meraih kemerdekaan menyerupai yang kini ini kita nikmati. Berkat pengorbanan dan pengabdiannya, bangsa kita sanggup terlepas dari penjajahan dan menjadi negara yang merdeka, bebas, dan berdaulat. 

Kini kau sebagai putra putri penerus bangsa memiliki kiprah untuk meneruskan impian para pahlawan. Kamu berkewajiban melanjutkan usaha satria sebagai satria pembangunan mewujudkan bangsa Indonesia yang sejahtera, aman, damai, tertib, tenteram, dan bahagia. Dengan demikian, kau telah turut menghargai jasa para pahlawan. 

Untuk menjadi satria pembangunan, kau sanggup menerapkan nilainilai kepahlawanan yang telah ditunjukkan mereka. Berikut nilai-nilai kepahlwanan yang sanggup kau terapkan dalam kehidupan sehari-harimu. 


1. Rela Berkorban 

Sikap rela berkorban ialah perilaku yang lebih mementingkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Sikap rela berkorban sanggup dibiasakan di lingkungan rumah, keluarga, dan masyarakat. Kita harus peduli kepada orang lain. 


2. Berjiwa Besar 

Berjiwa besar ialah perilaku yang mau mendapatkan segala yang terjadi dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Berjiwa besar sanggup diwujudkan dengan mau mendapatkan kekalahan dengan ikhlas, meminta maaf dan memberi maaf.


Ayo Berlatih


Pahamilah bacaan di atas! Kemudian, tuliskan cara menghargai jasa para satria bangsa!


 yang besar ialah bangsa yang sanggup menghargai jasa para satria Menghargai Jasa Para Pahlawan


Ayo Belajar dari Masalah


1. Bel tanda masuk berbunyi. Semua siswa masuk kelas. Ketika akan masuk kelas, tidak sengaja Bambang menginjak kaki Heru. Bambang minta maaf kepada Heru. Tetapi, Heru justru memarahi Bambang. Heru menganggap Bambang sengaja menginjak kakinya. Persoalan sepele tersebut menjadi besar. 

Jika kau menjadi Heru, tindakan apakah yang akan kau lakukan kepada Bambang?
Jika saya menjadi Heru saya akan memaafkan bambang lantaran bambang beritikad baik dengan meminta maaf terlebih dahulu lantaran menginjak kaki saya.


Jika kau menjadi Bambang, tindakan apakah yang akan kau lakukan kepada Heru?
Langsung meminta maaf kepada heru dan menjelaskan ketidak sengajaanya menginjak kaki bambang.


2. Di kelasmu sering diadakan ulangan harian. Pernahkah kau menerima nilai yang kau harapkan dan nilai yang tidak kau harapkan? Bagaimana sikapmu ketika menerima nilai yang kau harapkan? Bagaimana sikapmu ketika menerima nilai yang tidak kau harapkan?

Pernah, Sikap saya ketika menerima nilai yang dibutuhkan yaitu bersyukur kepada Allah SWT, dan tidak menyebabkan rasa sombong serta cepat puas, Jika nilai yang didapatkan tidak sesuai harapan biasanya saya jadikan motivasi semoga lebih ulet lagi berguru dan berdoa semoga ulangan berikutnya memuaskan nilainya.


3. Di kelasmu, akan diadakan ulangan. Kamu ingin menerima nilai bagus. Karena itu, kau pun berguru dengan tekun. Bagaimana sikapmu dikala menghadapi ulangan? Apa alasannya? Jika ada temanmu yang meminta jawabanmu, apakah kau rela memberikannya? Mengapa demikian?

Sikap saya dikala menghadapi ulangan yaitu tidak tergesa gesa dan fokus pada apa yang akan saya kerjakan, lantaran jikalau kita tidak fokus dikala ulangan akhirnya biasanya mengecewakan. Dan Jika dikala ulangan sobat saya ada yang meminta kunci tanggapan akan saya tolak, lantaran jikalau saya berikan jawabanya sama halnya kita sedang berlatih tidak jujur, Alasanya supaya tidak menyebabkan ketidak jujuran menjadi kebiasaan diantara kita, lantaran kejujuran ialah nilai penting dalam kehidupan.

4. Setiap berangkat ke sekolah, Andi dan Agus selalu bersama-sama. Mereka berjalan kaki. Saat berjalan kaki, tiba-tiba seorang nenek jatuh persis di hadapan mereka. Agus dan Andi terus berjalan lantaran takut terlambat masuk sekolah. Padahal, nenek itu membutuhkan pemberian mereka untuk sanggup berdiri. Apakah perilaku Andi dan Agus mencerminkan perilaku rela berkorban? Mengapa? Jika kau menjadi Agus atau Andi, tindakan apa yang akan kau lakukan?

Sikap Agus dan Andi yang tetap meninggalkan si Nenek dikala terjatuh tidak mencerminkan perilaku rela berkorban, lantaran mereka berdua hanya memikirkan diri mereka sendiri. Jika saya menjadi Agus dan Andi saya akan meolong sang nenek terlebih dahulu kemudian gres melanjutkan perjalanan ke sekolah lagi.

5. Saat Pak Guru sedang menjelaskan di depan kelas, ada dua orang temanmu yang asyik berbicara sendiri. Mereka tidak memperhatikan klarifikasi Pak Guru. Bagaimana sikapmu terhadap dua temanmu itu? Mengapa demikian?Bagaimana perilaku yang seharusnya dilakukan oleh kedua temanmu dikala Pak Guru sedang mengajar? Mengapa demikian?

Sikap saya terhadap kedua sobat saya yang berbicara sendiri dikala guru mengambarkan yaitu mencoba menegur, lantaran perbuatanya selain tidak menghormati pak guru, perbuatan mereka juga mengganggu sobat lain yang sedang serius mengikuti pelajaran. Sikap yang seharusnya dimiliki mereka berdua dikala pak guru sedang mengajar yaitu mau memperhatikan dengan baik apa yang pak guru sampaiakan dan tidak berbcara sendiri, lantaran dengan cara memperhatikan mereka akan gampang mendapatkan ilmu yang disampaiakan oleh pak guru.


Sumber https://www.gurune.net/

Kamis, 07 Desember 2017

Beda Budaya, Tetap Saudara

View Article

Melestarikan dan menyebarkan budaya bangsa merupakan perilaku yang perlu dikembangkan sebagai perwujudan perilaku konkret dalam menyikapi keragaman. Selain itu, juga merupakan perilaku dan acara konkret untuk mengisi kemerdekaan. 

Untuk sanggup memiliki perilaku mendapatkan keragaman suku bangsa dan budaya yang ada di masyarakat, diharapkan kesadaran dan keterbukaan. Namun, dengan menghayati semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, perbedaan-perbedaan itu akan makin tidak terasakan. Kesamaan harapan untuk menjadi bangsa yang kuat, bersatu, dan utuh telah menyingkirkan sejumlah perbedaan yang ada. Kata Bung Karno “Bersatu alasannya Kuat, Kuat alasannya Bersatu’.  

Berikut ini yaitu usaha-usaha yang sanggup dilakukan untuk mendapatkan keragaman suku bangsa dan budaya masyarakat lain. Selain lagu daerah, kita juga sanggup mempelajari tarian dari daerah dan suku lain. Di banyak sekali tempat, telah banyak didirikan sanggar tari yang sanggup menjadi tempat untuk memperkenalkan budaya dari kawasan dan suku lain. Dengan mempelajari lagu dan tari dari kawasan dan suku lain, kita bekerjsama telah mendapatkan keragaman budaya dalam masyarakat.

Mengembangkan Budaya Daerah Sendiri

Berbagai atraksi budaya yang dimiliki oleh banyak sekali suku bangsa di Indonesia sanggup hilang kalau tidak diwariskan kepada generasi penerus. Unsur-unsur budaya yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia sanggup tinggal cerita. Oleh alasannya itu, kalau di sekitarmu masih ada atraksi budaya, ikuti dan pelajarilah. 

Dengan mengikuti dan mempelajari budaya bangsa, seiring dengan berjalannya waktu, akan muncul rasa mencintai. Pada akhirnya, akan timbul keinginan untuk menyebarkan dan melestarikannya.


4 Cara Melestarikan Budaya Bangsa

Mempunyai perilaku mendapatkan keragaman suku bangsa dan budaya yang ada di masyarakat.
Mempelajari tarian dari daerah dan suku lain.
Mewariskan ke generasi berikutnya banyak sekali atraksi budaya yang dimiliki oleh banyak sekali suku bangsa di Indonesia.
Dengan memperkenalkan kepada masyarakat dengan cara mengadakan pertunjukan kesenian.

Ayo Membaca 

Cara lain untuk melestarikan kebudayaan bangsa yaitu dengan memperkenalkan kepada masyarakat dengan cara mengadakan pertunjukan kesenian. Pertunjukan kesenian selain memperkenalkan kepada masyarakat umum, juga sanggup membina rasa cinta budaya bagi belum dewasa yang mementaskannya. Seperti apa yang dilakukan oleh siswa-siswi pada bacaan berikut!


Siswa SD Juara Pekanbaru Persembahkan Pentas Seni

Pentas seni merupakan acara untuk menumbuhkan percaya diri tampil di depan teman-teman, guru, dan masyarakat umum. Juga untuk menumbuhkan kreativitas dalam berkarya dan berkesenian, melatih kekompakan, serta menumbuhkan rasa ingin tahu bagi teman-teman yang lain. Demikian halnya dengan yang dilaksanakan oleh SD Juara Pekanbaru. 

Kegiatan pentas seni dimulai dengan penampilan tari persembahan dari siswa kelas 4 dan diiringi oleh musik dan lagu “Bermain Layang-Layang”. Kemudian, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu “Mars Pramuka”. Lalu, penampilan lagu-lagu keagamaan persembahan dari siswa kelas 3. 


Para siswa, guru, dan penonton sangat bahagia dan bersemangat. Berharap acara ini terus diadakan bahkan juga ditiru oleh sekolah-sekolah yang lain. Tujuannya semoga budaya bangsa kita tetap lestari. ( di ambil dari buku siswa kelas V dan Disadur dari: www. rumahzakat.go.id )

Ayo Mencoba

Pada ketika merencanakan sebuah program menyerupai pentas seni, biasanya kau juga menciptakan daftar pihak-pihak yang perlu diundang untuk menghadirinya.  Oleh alasannya itu, kau perlu menciptakan surat undangan. Dengan memakai tempat yang tersedia di bawah ini, buatlah sebuah surat seruan resmi untuk menghadiri acara pentas seni yang diadakan di sekolahmu.

Melestarikan dan menyebarkan budaya bangsa merupakan perilaku yang perlu dikembangkan sebag Beda Budaya, Tetap Saudara



Sumber https://www.gurune.net/